Wednesday, September 2, 2026

Dijauhkan dari Kecurangan

Setiap pagi, di hari kerja, saya melajukan kendaraan di jalan menembus pagi yang mulai merekah. Biasanya, lalu lintas tidak ramai, seperti matahari yang menyinari bumi secara bertahap. Saya pun masih dalam kondisi setengah tidak rela meninggalkan kenyamanan duduk di dalam KRL. Namun, saya tetap berusaha membangunkan kesadaran dengan menegak air mineral secukupnya. Dengan kondisi baru ini, disertai doa singkat agar selamat di perjalanan, saya melajukan motor saya keluar dari area stasiun.

Terkadang, "kawan" yang juga bersamaan turun dari KRL berpapasan dengan saya di jalan, di atas motor. Laju kendaraan "kawan" ini sering memancing saya untuk menyalipnya. Semacam hiburan kecil, bagi saya. Entah "kawan" ini berboncengan, saya yang sendirian saja seringkali menyalip dan jika beruntung, melaju jauh dari mereka. Tetapi jika "tidak beruntung" maka saya harus berhenti di lampu merah, sementara itu, mereka dengan santai melaju menerobos. Dan, saya kalah dalam lomba kecepatan. 

Kejadian seperti ini berulang, membuat saya berpikir, "Mereka menerobos lampu merah, tetap bisa berkendaraan dengan nyaman, bahkan bisa mendahului saya yang mengikuti aturan." Serta merta, saya merasa tidak adil. Saya jadi mengingat praktik-praktik tidak mengikuti aturan alias curang yang dilakukan oleh orang-orang tertentu. Hidup mereka baik-baik saja, bahkan lebih baik daripada mereka yang mengikuti aturan. Bahkan, mereka yang curang kerap mengatakan, "Kalau tidak curang, bisnis (atau hal lainnya) tidak menang!" 

Pikiran saya ini mirip dengan pikiran Daud. Di Mazmur 73 dengan judul "Pergumulan orang yang tulus hati", Daud secara jujur menyatakan dirinya hampir saja terpeleset, tergelincir, saya mengartikan, hampir ikut-kutan, gaya hidup orang-orang curang. Ia terang-terangan mengatakan dirinya cemburu karena melihat kemakmuran orang-orang fasik. Selanjutnya, ia merinci secara detil 'kemakmuran'  orang curang, yaitu tidak sakit, gemuk, tidak susah, tidak kena tulah, seperti orang lain. Kita juga pernah kan berpikir seperti ini? Hayo, ngaku saja.

Lalu Daud menjabarkan kejahatan mereka, yaitu sombong, bibir mencibir, pemerasan, melawan Allah, dan sebagainya. Bahkan mereka terlalu lancang menyatakan hal ini, "Bagaimana Allah tahu hal itu, adakan pengetahuan pada Yang Maha Tinggi?" Daud juga mengatakan mereka hidup tanpa beban selamanya dan menumpuk harta kekayaan. Setelah ia mengatakan semua ini, Daud membandingkan dirinya dengan mereka dan ada rasa "menyesal" telah berlaku jujur. "Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah". Ini pernyataan dari seorang jujur yang mengenal Allah. 

Ia merenungkan untuk memahami tetapi sulit mengerti. 

Saya suka kejujuran Daud, dan menurut saya, inilah tanda dia mengenal Allah. Ia tahu Allah yang Maha Tahu mengetahui pikiran dan perasaannya. Jadi, untuk apa ditutup-tutupi lewat doa yang dipoles dengan kata-kata manis. Allah bukan pejabat yang suka dikasih laporan "semua baik, Pak!" Daud mengaku dia tidak mengerti dengan semua hal itu. Ia mengatakan dirinya dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu. 

Lalu, ia masuk ke dalam tempat kudus Allah, untuk memperhatikan kesudahan mereka.  Ia mengatakan aku tetap di dekat-Mu. Daud menyadari kelemahannya, dan kebergantungannya pada Tuhan saat diri tidak menerima kenyataan di depan mata. Saat Daud datang ke hadirat Tuhan, ia mendapatkan pemahaman yang dibutuhkannya. Jiwanya tidak lagi bergumul, tidak lagi overthinking. Imannya kepada Allah yang hidup semakin dikuatkan. Ia yakin Allah itu adil. 

Sebab sesungguhnya, siapa yang jauh dari-Mu akan binasa, Kaubinasakan semua orang yang tidak lagi setia kepada Engkau.


No comments:

Post a Comment

Dijauhkan dari Kecurangan

Setiap pagi, di hari kerja, saya melajukan kendaraan di jalan menembus pagi yang mulai merekah. Biasanya, lalu lintas tidak ramai, seperti m...