"Hebat lu, kuat pulang-pergi sejauh itu"
"Jauh banget rumahnya, gak mau cari yang deket aja?"
Ah, macam-macamlah yang dikatakan teman-teman sekerja saya setelah tahu saya menempuh jarak sejauh itu tiap hari, dan fun fact-nya, tidak terlambat ke kantor. Yey!
Tapi bukan itu yang mau saya ceritakan. Bukan tidak lelah atau bosan jika saya ikutan merenungkan kata-kata mereka, tetapi saya baru menyadari satu hal. Bagi saya, mengendarai motor di jalan mulus seperti BSD City itu sungguh menyenangkan. Bahkan, jadi semacam healing atau meditasi singkat.
Sore ini, saat saya mendapatkan insight itu. Saat motor saya melaju bersama motor lainnya, dan kendaraan lainnya, saya melihat situasi ini mirip dengan kehidupan. Diawali dengan mengejar waktu karena jadwal kereta, saya berusaha mencari-cari sisi kosong di tengah-tengah kemacetan di beberapa titik jalur yang sering saya lewati. Di saat ini, saya perlu berkonsentrasi melihat keadaan jalan di depan dan di belakang, lewat kaca spion. Jika dirasa aman, saya memberanikan diri mengambil sisi yang sudah ditargetkan. Ini terjadi berulang-ulang, berkonsentrasi dan mengambil keputusan, sehingga saya perlu 'membebaskan diri' dari hal-hal kurang penting, Biasanya saya mengamankan barang-barang berharga di bagasi motor, lalu yang kurang berharga dicantelkan saja. Lalu, saya perlu bercelana panjang, berjaket dilapisi penahan angin, memakai helm bersih transparan, jika terik, ada kaca gelap, bersarung tangan, bermasker, dan bersepatu. Tidak saya izinkan diri memakai sandal karena kecelakaan beberapa kali menyadarkan saya bahwa bagian kaki, terutama jari-jari sangat rentan terluka parah jika jatuh. It's a big NO buat saya berkendaraan sambil mendengarkan musik atau suara lainnya dari headset.