Showing posts with label Perenungan. Show all posts
Showing posts with label Perenungan. Show all posts

Wednesday, November 5, 2025

Menganggap Sepi

Semalam, saya marah sekali pada keponakan-keponakan saya, terutama keponakan pertama. Pasalnya, saya melihat dia sedang bermain gim daring, sepertinya Mobile Legend atau sejenisnya. Saya bertanya kepadanya apa manfaat memainkan gim tersebut, dan dia bilang baru mulai sebentar. Itu tidak menjawab pertanyaan sama sekali. Saya kecewa karena dia menganggap sepi fasilitas internet, dan yang lainnya, dan hanya menggunakannya untuk kesenangan. Saya tidak anti dengan kegiatan santai sejenak, hanya saja sebaiknya memilih kegiatan yang bermanfaat. Salah satu gim daring yang bermanfaat, menurut saya adalah catur.

Saya katakan kepadanya, "Kamu tidak membayar untuk koneksi internet yang baik di rumah ini. Juga tidak harus mengeluarkan tabunganmu untuk mengisi daya telepon genggammu setelah dipakai habis bermain gim daring. Kamu merasa semua fasilitas itu bisa kamu pergunakan sesukamu, dalam waktu tidak terbatas, dan untuk keperluan yang kamu tentukan sendiri. Semua tentang dirimu dan kepuasanmu. Kamu tidak sadar bahwa sebenarnya kamu "membayar" dengan waktumu." Fasilitas yang seharusnya dipakai untuk belajar dan berkarya dipakai untuk hal yang sia-sia. Ia menganggap sepi kebaikan orang-orang yang sudah membuat fasilitas itu ada di rumah kami. 

Tuesday, September 16, 2025

Perselisihan di Jemaat Korintus

I Korintus dituliskan oleh Paulus sekitar tahun 53–55 M ketika ia berada di Efesus (baca 1 Korintus 16:8). Korintus sendiri adalah kota metropolitan penting dalam Kekaisaran Romawi. Setelah dihancurkan pada 146 SM, kota ini dibangun kembali oleh Julius Caesar pada 44 SM dan menjadi koloni Romawi. Letaknya yang strategis di jalur dagang (isthmus Korintus) menjadikan kota ini pusat ekonomi, komersial, dan kebudayaan.

 

Jemaat Korintus didirikan oleh Paulus pada perjalanan misinya yang kedua. Paulus tinggal di Korintus selama 1,5 tahun untuk mengajar dan membangun jemaat. Setelah Paulus pergi, jemaat ini terus berkembang, tetapi juga menghadapi banyak masalah, salah satunya perselisihan atau disunity.

 

Disunity atau perselisihan didefinisikan sebagai disagreement, conflict, not being able to agree about important things. Tidak mampu setuju mengenai hal-hal yang penting. Dalam jemaat Korintus hal-hal penting tersebut mengenai “para pemimpin” yang dipilih menjadi identitas jemaat. Mereka mengatakan “Kami mengikuti Paulus, Apolos, Kefas (Petrus), atau Kristus (1 Kor 1:10–17). Alasan menjadi pengikut seseorang itu menjadi sesuatu yang penting, bahkan jadi identitas jemaat adalah:

Wednesday, July 2, 2025

Rasa itu...

Hari baru...

Tantangan baru...

Berkat baru...

Itu yang kutulis di buku harianku. Benarkah?

Mengetahui beberapa hal sudah menjadi masa lalu. Dan aku, tidak mau aku kembali ke masa lalu, seindah apapun itu. Pernah kukatakan bahwa alasanku tidak mau mengingat masa lalu adalah karena masa itu indah namun tidak akan kembali. Sebaiknya, aku memaksakan diri melihat masa depan, dan berharap ada kisah baru di sana. 

Sekarang berbeda.

Aku merasa apa yang aku miliki hari ini, dan hari ini pun akan berlalu tergesa-gesa. Aku ingin menikmati setiap detiknya. Aku tidak takut. Aku was-was. Aku selalu dalam mode siaga. Red alert.

Aku sudah dewasa dan hampir setengah abad. Aku mempersiapkan diriku sedemikian rupa. Aku tahu bahwa ada hal-hal yang tidak bisa kukendalikan nantinya. Dan inilah yang membuatku berpikir apa kira-kira.

Aku harus menanggulangi kerugian dan menangkal potensi kerugian di masa depan, semampuku. 

Belum lagi, aku harus menampilkan wajah profesional di depan kolegaku. Aku tidak bisa setiap saat mengeluarkan isi hatiku kepada mereka. 

Dan ini belum selesai...

Thursday, January 16, 2025

Kita - Kami

Zaman sekarang kita - kami seringkali dipakai secara bergantian. Padahal kedua kata ganti orang ini memiliki makna yang sama sekali berbeda. Menurut saya, ini juga salah satu kekayaan bahasa Indonesia. Di dalam bahasa Inggris, kita dan kami diberi satu kata, yaitu we. Di bahasa Perancis menggunakan kata nous saja. Bahasa Cina menggunakan kata women. Dari tiga contoh ini saja, saya bisa menyimpulkan perbedaan kami dan kita ini merupakan keunikan bahasa Indonesia. Sayangnya, orang Indonesia sendiri salah menggunakan kedua kata ini. 

Menurut KBBI, kita adalah orang yang sedang berbicara bersama orang lain, termasuk mereka yang diajak bicara. Sedangkan, kami adalah yang berbicara bersama dengan orang lain (tidak termasuk yang diajak berbicara); yang menulis atas nama kelompok, tidak termasuk pembaca.Jadi, jika ada orang yang berkata bahwa keduanya sama, ya berarti tidak tahu perbedaan dasar ini. Ketika saya menyampaikan informasi ini, berbagai reaksi saya dapatkan, dari yang tidak percaya hingga tidak mau menggunakan kata yang benar. Aneh, bukan?

Wednesday, May 15, 2024

Guilt and Shame

Ada perkataan bijak berbunyi seperti ini, "Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!" Kebenaran dari perkataan ini selalu relate di setiap zaman. Pada banyak kasus, mereka yang menyangka dirinya sangat teguh, justru yang pada akhirnya jatuh. Saya merasa sayalah salah satu dari mereka itu. Kejatuhannya tidak pada taraf yang ekstrim, tetapi akibatnya sangat mengganggu dan hampir putus asa. Di dalam hati ada gemuruh, tetapi di luar harus terlihat profesional dan tenang. 

Saya dihinggapi guilt and shame. Sebelumnya, saya hanya merasakan kedua emosi ini secara terpisah. Guilt atau perasaan bersalah terjadi karena saya melakukan sesuatu atau mengeluarkan perkataan yang salah, dan biasanya saya minta maaf atau memperbaiki perilaku. Shame atau rasa malu pernah saya rasakan ketika tindakan atau pikiran saya tidak selaras dengan identitas saya. Biasanya, perasaan itu akan hilang seiring berjalannya waktu. Kali ini berbeda, saya merasakan keduanya di saat yang sama, dan sekali lagi saya katakan, itu sangat tidak nyaman. Saya tidak bisa tidur tenang dan beraktifitas dengan damai. Cuma satu pertanyaan di kepala saya, "Kok bisa?" Pertanyaan sederhana seperti itu menghasilkan efek yang dahsyat buat saya. "Kok bisa?" membuat saya menapak tilas di periode mana kemungkinan kesalahan itu dibuat dan dengan siapa saja saya sudah menceritakannya. "Kok bisa?" membuat saya mempertanyakan rasionalitas, perhitungan serta kewarasan sebagai wanita dewasa di umur yang tidak sedikit, yang seharusnya sudah bisa meramalkan yang akan terjadi. "Kok bisa?" membuat saya menyesali mengikuti hati dan mengambil (lagi) otak saya dalam membuat keputusan yang terlihat maupun tak terlihat. Bisa lihat kan? Pertanyaan sederhana itu tidak sesederhana itu untuk dijawab oleh saya.

Sunday, February 25, 2024

Surat untuk Berondongku

Berondongku yang ganteng dan menarik,

Setiap hari saya menyalahkan perasaan ini. Setiap hari pula saya berusaha membenarkan perasaan ini, tetapi selalu salah. Masa-masa sulit itu sudah berlalu. Kini sisa-sisa rasa yang pernah ada, seiring dengan semakin dekat masa perpisahan itu. 

Dan sebenarnya saya tidak berencana membuat tulisan mengenai perasaan ini. 

Ini perasaan yang baru, aneh tapi nyata, tidak bisa dipungkiri keberadaannya. Seorang teman menyebutnya 'keberuntungan'. Dia mengatakannya seperti ini, "Perasaan menyukai dan disukai oleh berondong itu menyenangkan, seperti oase di tengah-tengah kehidupan yang kering, membosankan." Teman lain berkata, "Ah, itu mah cinta monyet, Kak, gak usah dipikirin." Keduanya benar di dalam hati saya, tetapi juga sama salahnya. Menyenangkan, iya, tetapi 'keberuntungan', tidak sama sekali. Cinta monyet, iya benar, tetapi tetap saja saya memikirkannya. Saya sering pantau media sosial kamu, hanya untuk mencari tahu siapa kamu. Saya tidak mungkin menanyakannya pada orang lain.

Dan saya tidak tahu harus memutuskan yang mana. Saya hanya berdoa yang terbaik buat kami berdua.

Saya tahu perasaan ini baik tetapi mungkin tidak benar. Seandainya pun semua berjalan sesuai yang diinginkan, tetapi tidak bisa dipungkiri ada hukum alam yang menghalangi. Dia terlalu kuat, percuma melawannya sekalipun berusaha sekuat tenaga.

Akhirnya, Berondongku, kamu tahu apa yang saya lakukan?

Monday, February 19, 2024

Kekasih Jiwaku

Satu insiden membuat saya mengerti arti dimiliki oleh Tuhan. Ada masa saya mengikuti keinginan hati yang saya tahu tidak menyenangkan hati Tuhan. Saya sadar, sesadar-sadarnya, tetapi tetap saya lakukan. Saya ingin berbaur dengan orang lain. Saya ingin keren. Saya ingin diri yang dulu. Saya melihat apa yang seharusnya tidak saya lihat. Saya mencari nasihat pada tempat yang tidak seharusnya. Saya mendengar yang tidak seharusnya saya dengar. Hal-hal yang saya tuliskan di sini pastinya tidak asing bagi mereka yang percaya  Kristus dan berkomitmen hidup di dalam Dia. Di dalam hati, ada 'suara' yang membuat kami berpikir ulang akan segala sesuatu yang 'normal'. Allah berkata bahwa Allah akan memisahkan umat-Nya dari bangsa lain di bumi ini. Inilah yang dimaksudkan tentang hal itu, Allah berbicara di dalam hati umat-Nya untuk melakukan yang benar, yang kudus dan yang BERKENAN kepada Allah. Tetapi, umat-Nya tetap punya pilihan untuk tidak melakukan. Dan, saya melakukan hal itu. Ketika saya melakukannya, saya bermimpi didatangi oleh setan. Saya langsung sadar dan minta ampun untuk hal yang saya lakukan. Saya langsung menyadari bahwa menjadi milik-Nya berarti Dia menginginkan saya dengan cemburu. Dia tidak ingin saya menjauh dari-Nya. Well, pola pendisiplinan-Nya bermacam-macam, kadang langsung, seperti yang saya alami tetapi terkadang tidak langsung. Seperti seorang kekasih, Dia menjaga umat-Nya, dengan segala cara menyadarkan kekasih-Nya untuk kembali setia.

Tuesday, January 2, 2024

If you know what I mean

The more I live, the more I learn to speak out for myself and be true to myself. I don't let people who wait for my response or answer, wait forever. I will answer it straightforwardly. I'm tired of being misunderstood and seen as a "good" girl who stays silent whatever happens. I have decided to follow Jesus wholeheartedly, so I have to say goodbyes to what keeps me from Him. It might be a cliche, but the more I think of being a good human, I come to the conclusion that I need to free my mind, not in a selfish mean, but so that I can pray and do more. I need silence, and peace in my heart and my soul, no matter what. Too much noise, and opinions from people who think they know the best, I need to be alone with my God. Sometimes I feel like standing amid wilderness, with no clue at all where to go. And it's intensified these days. Depression is in front of me, I tend to be alone and unbothered. But my Lord never leaves me in my storm. People might not know, they only think I love being distant. Yes, I like to be alone, unbothered, but I know it slowly leads me to depression. I don't want it. I want to face all of the difficulties, and win, with my Lord. I want to be like David. 

Tuesday, December 5, 2023

Menjadi Dewasa

Sewaktu saya tanyakan ke sekumpulan anak-anak sekolah minggu yang sedang mendengarkan Firman Tuhan mengenai menjadi dewasa, salah seorang yang paling suka bicara menjawab, "Saya tidak suka menjadi dewasa!" Saya heran karena tidak pernah terpikirkan oleh saya senang tetap menjadi anak-anak. Lagipula, tidak ada seorang pun yang bisa menghentikan waktu, mau tidak mau, suka tidak suka, semua anak akan menjadi dewasa. Alasan anak itu adalah menjadi dewasa itu susah, harus menghadapi tantangan-tantangan hidup. Sebagai guru sekolah minggu, saya berusaha 'membujuk' anak itu dengan menyatakan bahwa menjadi dewasa itu bisa menentukan pilihan, membuat keputusan, sekalipun banyak tantangan dihadapi. Semua tantangan itu akan membuat seseorang lebih kuat dan penyertaan serta berkat dari Tuhan semakin nyata. 

Dia menjawab dengan tegas, "Penyertaan Tuhan 'kan ada sepanjang masa, tidak harus lewat tantangan hidup, tidak perlu menunggu jadi orang dewasa." Saya tersenyum dan menambahkan, "Suka tidak suka, kamu akan menjadi dewasa, jadi hadapilah." Sesungguhnya pernyataan anak ini dirasakan oleh banyak orang. Sewaktu masih kanak-kanak, kita bersikap seperti kanak-kanak. Isi kepala kita tidak pernah sedetik pun berpikir bahwa listrik, air dan segala yang ada di rumah itu didapatkan dengan membayarkan sejumlah uang dan harus disetorkan setiap bulan jika tidak mau ada pemutusan. Di dalam sana, kita hanya memikirkan perasaan senang jika mendapatkan nilai baik, teman yang asik, peristiwa yang menguntungkan, tidak ada tagihan rekening yang harus dibayarkan. 

Thursday, November 2, 2023

Joice Simanjuntak

Sekarang Kakak hanya nama, tanpa wujud. I can't believe you're gone. Kita memang tidak punya pertalian darah, meskipun circle kita lumayan banyak. Kakak dikenal mama dan keluarga besar mamaku. Kakak juga teman gerejaku. Kita pernah mengalami hal yang berat di gereja, tetapi kakak memilih bertahan di sini, seperti saya juga. 

Sedih ini berlarut-larut, kenapa ya? Mungkin karena saya berharap lebih. Saya berharap Dia yang memiliki organ tubuh Kakak memberikan kehidupan kepada Kakak. Saya berharap Kakak melihat dia yang masih kecil. Saya berharap dia melihat Kakak di setiap tahap perkembangan hidupnya. Saya berharap keluarga Kakak utuh lagi. Ini mungkin kesalahan saya, berharap tanpa menginjak bumi

Saya tahu Kakak kesakitan, putus asa, dan sedih. Saya tahu Kakak marah, kecewa, sakit hati. Tetapi, saya senang Kakak bilang sudah menyelesaikan semua sebelum menutup mata. Saya senang Kakak membuat keputusan yang benar. Saya senang Kakak sudah bersama Bapa di surga.

Di sini, kita semua perantauan. Tidak usah bawa banyak beban. Meski menjalani keseharian, hati batin musti lihat ke tempat perhentian itu. Di sana, kita tidak akan pindah lagi. Kita akan bersama Dia yang memiliki kita. 

Saya sedih, berduka tepatnya. Air mata ini turun tidak pada tempatnya, di bus, di kantor. Air mata ini buat Kakak, berpisah darimu. Saya masih berharap, keluarga Kakak melanjutkan hidup di dalam kebenaran Tuhan. God will make His way, even in the wilderness!


Monday, October 23, 2023

Kangen Masa Lalu

Kotbah pagi ini menggelitik batinku. Gerutu, dari bangsa Israel di Bilangan 11:4-7, "Orang-orang bajingan yang ada di antara mereka kemasukan nafsu rakus; dan orang Israelpun menangislah pula serta berkata: "Siapakah yang akan memberi kita makan daging? Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih. Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apapun, kecuali manna ini saja yang kita lihat," tidak asing rasanya buatku. Dan rasanya tidak asing buat kamu juga, bukan?

Kala itu, bangsa Israel sudah muak dengan manna, makanan dari surga yang diberikan Tuhan selama perjalanan mereka ke tanah perjanjian. Tubuh mereka sangat sehat dengan mengkonsumsi makanan itu, terbukti mereka bisa berjalan dalam jarak yang sangat jauh. Rasanya pun manis, hanya saja kangen masa lalu lebih menggoda. Mereka teringat mentimun, semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih yang mewakili kenikmatan duniawi. Betapa enak makanan itu setelah hari yang penuh kerja berat mereka lalui. Pekerjaan berat ini disertai dengan takut dan cemas jika mereka tidak memenuhi tuntutan dari penguasa mereka. Kenikmatan sejenak ini ternyata sangat membekas di benak mereka. Mereka lupa bahwa kenikmatan itu mereka dapatkan dalam kondisi terjajah, menjadi budak, di negeri asing, bukan di tanah mereka sendiri. 

Thursday, August 10, 2023

Pernikahan

Pernikahan itu seperti perjalanan melalui laut menggunakan perahu, bisa terbuat dari apa saja. Tentunya, bahan pembuat perahu haruslah yang baik dan fasilitas di dalam perahu perlu yang terbaik agar perjalanan lancar. Perahu yang diisi dua manusia, laki-laki dan perempuan, pastinya punya tujuan bersama, ke suatu tempat yang indah bersama-sama. Di awal perjalanan, ketika pertama kali melepaskan diri menjauh dari pantai, semua pemandangan terlihat indah. Tidak banyak hal yang membuat gundah gulana. Mereka berdua saling tersenyum, membenamkan diri ke tubuh satu sama lain, saling memiliki. Harapan mereka tinggi akan hari esok, menua bersama dalam kegembiraan tak putus.

Pantai menjauh dari pandangan mata, menjadi hanya segaris batas horizon. Melihat ke bawah, air laut membiru kelam, tak seperti pemandangan di pinggir pantai. Ikan-ikan dan terumbu karang berwarna-warni digantikan dengan ketidakpastian mahkluk di bawah sana dan buih, terkadang ada saja sampah yang mengapung. Perahu itu menjadi terlalu kecil bagi mereka berdua. Mereka mulai berpikir untuk memperlebar perahu itu, mengembangkan layar, memasang penutup dan segala pekerjaan lainnya yang diperlukan untuk kenyamanan hidup bersama di tengah laut. Mereka selalu sibuk, selalu saja ada pekerjaan yang harus dilakukan, ada saja hal-hal yang salah yang perlu diperbaiki. Mereka jadi jarang berkomunikasi, terlalu banyak pekerjaan, terlalu lelah untuk mengucapkan kata itu. Aku cinta padamu. 

Tuesday, April 4, 2023

The Good Doctor

Lagi bingung mikir mau nonton film apa di Netflix, eh terlintas ide nonton The Good Doctor yang versi original, dari Korsel. Gak lama, gue dapat pengalaman hidup yang sedikit banyak sama dengan yang ada di film itu. Park Si-On, si dokter unik itu, sejauh episode yang gue udah tonton (episode 12), berusaha menjadi dokter yang baik dengan kondisinya sebagai penderita sindrom savant. Dia hanya punya satu tujuan, mengobati orang sakit dan memberikan kesempatan untuk hidup. Tujuan mulia, bukan? Dan, gue rasa semua pasti setuju, seorang dokter yang baik harus memiliki pemikiran seperti ini. 

Park Si-On, dibantu oleh direktur rumah sakit Sungwon Univerity, dr. Choi Woo-Seok, akhirnya diterima bekerja di situ. Dr. Si-On mendapatkan kesempatan 6 bulan masa percobaan dengan taruhan pengunduran diri dr. Choi jika ternyata gagal. Tujuan mulia yang dimiliki dr. Si-On dan didukung oleh kejeniusannya mendiagnosa tidak membuatnya menjalani masa percobaan itu dengan mulus. Dia harus berusaha menjadi seorang 'dokter' dan bukannya robot seperti yang dikatakan oleh dr. Do Han

Monday, February 27, 2023

Overthinking dan Asam Urat

Apa hubungannya? Saya juga baru tahu tadi, ternyata kedua hal itu, overthinking dan asam urat ada persamaan. Begini awalnya saya mendapatkan "pencerahan" itu. Pembicaraan mengenai overthinking dan asam urat datangnya bersamaan. Saya mulai dari pembicaraan tentang asam urat. Saya punya teman penderita asam urat akut. Salah satu petugas kebersihan di kantor saya 'curhat' kepada teman saya tentang ibunya yang sakit asam urat. Teman saya yang sudah 'ahli' karena berpengalaman menghadapi serangan segera memberikan tips penanganannya. 

Bagi saya yang tidak punya pengalaman terserang asam urat, informasi itu hanyalah berguna sebagai pengetahuan saja. Tetapi saya tetap mendengarkan karena ada hubungan yang cukup erat dengan penyakit mental yang bernama overthinking. Seperti asam urat, overthinking sebetulnya bisa diatasi ketika masih dalam bentuk serangan-serangan kecil. Kalau asam urat, pencegahannya tentunya dengan mengkonsumsi makanan yang dianjurkan, berolah raga dan menjaga bobot tubuh. Sedangkan overthinking, pencegahannya dengan mengkonsumsi (memasukkan) informasi yang benar ke dalam pikiran, berolah raga agar hati lebih senang dan mengucap syukur

Wednesday, January 11, 2023

Goodbye, Mumun!

My car, Mumun — I guess it’s time to say goodbye. She’s been with me through so many roads, storms, and near disasters that it almost feels wrong to let her go. But before I do, I want to tell her story — or maybe ours.

The scariest moment happened one Christmas holiday. I decided to take Mumun to Jakarta, thinking the highway would be the fastest route home. Everything went fine at first, until somewhere in the middle of the long, grey road, I felt something strange. Mumun began to lose her power. I tried not to panic — maybe I imagined it, I thought. I pressed the gas pedal harder, hoping she’d recover.

Then, the engine stopped.

It was raining that day — heavy but calm — and now I realize that was a blessing. Because of the rain, cars were driving slower than usual. If they hadn’t, things could’ve been much worse. I sat there, gripping the steering wheel, the sound of rain mixing with my heartbeat. I was alone. I didn’t know what to do, so I prayed. I turned the key again and again, whispering, “Please, God.”

After a few tries, Mumun came back to life.

I sighed in relief and drove again, but she wasn’t the same. The power was weak. And then, she stopped again — right in the middle of traffic near the Tanjung Priok toll gate. Cars were honking, people were impatient, and then I saw an ambulance trying to pass on my right. Right at that moment, the engine died once more.

Panic kicked in. I turned the key and pressed the gas, but there was no response. Then I noticed something — the road was slightly downhill. Maybe it was instinct, maybe it was grace, but I released the brake and let gravity help. Slowly, Mumun started to move, and somehow, we made it out of the highway.

The road to my house was another test. I took a smaller, quieter route, hoping it’d be easier — but of course, life had other plans. A car and a gerobak blocked the way at the same time. I couldn’t move, people started yelling, and I felt completely helpless. They didn’t know the gerobak couldn’t move aside. It was chaotic, humiliating even. But eventually, I made it home. Mumun’s engine released a puff of smoke as if to say, “That’s all I’ve got for today.” Only later did I find out she had been “dehydrated.”

A few days later, I drove her again — this time to my church’s Christmas gathering in Lenteng Agung. Four of us were inside, laughing and chatting, until the same problem came back. We didn’t know what to do, so we left Mumun in Kalibata and continued our journey by online taxi. I was worried sick. Thankfully, my friends later helped me, and Bang Alex figured out the issue and fixed it.

On the drive back, though, I couldn’t shake off the fear of the engine stopping again. It made me press the gas harder than I should have — too hard, maybe — and I almost collided with another car at an intersection. My friend screamed, my heart stopped for a second, and I knew I’d pushed too far.

That night, shame hit me harder than fear. I could’ve hurt someone. I could’ve made things worse.

But later, when I told this story to a colleague, she smiled and said, “That’s something unforgettable — and precious.” And maybe she was right. Maybe all those moments weren’t just problems; maybe they were lessons — reminders that God’s protection is real, even in the middle of panic, rain, and engine smoke.

So now, as I prepare to say goodbye to Mumun, I choose to remember the good things: the roads we conquered, the prayers whispered in fear, and the quiet gratitude after every near-miss.

Thank you, Mumun, for every adventure — for being part of my story, for teaching me to trust, to stay calm, and to believe.

Goodbye, my loyal friend. You’ve served me well.

Tuesday, January 3, 2023

I can READ it

When I posted a thank you line for those who celebrated their birthdays, I consciously, intently order the names, not by the hierarchy but by their names.  What I meant is this, we are all the same. Maybe I am the one who's weird but I just hate the hierarchy if it's overly used. You see, that was just a list of names, but none DARED to re-order it. The boss is always on top. Even in casual greetings, and I hate it because I can read it. It's obviously insane for me. Not that I hate the boss, no, she's my friend, it's the behavior that overly makes her always on top.

That kind of mindset bothers me. Why can't we enjoy being human? Equal to one another? Or, that's what should be? The proper one?

I wish that I can't read it.


Tuesday, December 20, 2022

Kesukaan Bagi Dunia

Saya menyukai lagu-lagu natal, salah satunya adalah Kesukaan Bagi Dunia. 
Hai dunia, bersukalah!
Yesus sudah datang 
B'ri hatimu kepada-Nya
Nyanyikan pujian
Nyanyikan pujian
Nyanyikan nyanyian pujian
Kesukaan seperti apa yang diterima oleh dunia? Kesukaan akan datangnya Yesus Kristus. Apa artinya bagi dunia? Dengan kedatangan Yesus Kristus, ada harapan bagi dunia untuk memperoleh hidup kekal. Di dunia ini pun, ketika kita masih menjalaninya selagi masih hidup, ada makna hidup yang sejati. Manusia tahu ada Bapa di surga yang menginginkan kehidupan yang berkelimpahan, bukan dengan materi, tetapi sukacita di dalam hati karena kehadiran Yesus Kristus. Dialah alasan manusia hidup.
Saya telah mengalaminya. Saya ingat beberapa kejadian Tuhan Yesus menolong saya ketika hidup saya seperti sudah akan hilang. Ketika saya tahu tidak ada bantuan dari dunia ini, saya meneriakkan nama itu, Yesus Kristus, tolong! Saya ada sekarang hanya karena Dia. 
Saya tidak dapat membayangkan hidup tanpa Yesus Kristus. Sungguh, Dialah hadiah terbesar yang diterima yang diberikan kepada dunia. 
Maka, berilah hati kepada-Nya, maka kamu akan menyanyikan nyanyian pujian sejati.

Thursday, December 8, 2022

Hidup Lebih Berharga Dari...

Pagi ini, setelah renungan pagi bersama, kami dikabari berita yang kurang menggembirakan mengenai kondisi kesehatan seorang rekan kerja yang sudah lama sakit. Setelah menjalani pemeriksaan menyeluruh, hasil laporannya ternyata tidak baik, stadium 4, lanjutan dari penyakit yang dulu pernah dinyatakan sudah "bersih". Kali ini, dengan kondisi tubuh yang tidak lagi sekuat vonis pertama, dia tidak mau menjalani kemoterapi. Dan, yang paling mengganggu dari semua berita itu adalah dia mengatakan kali ini rasa takut dan khawatirnya lebih besar dibandingkan yang pertama. 

Saya turut sedih, ingin menghibur, tetapi tidak tahu bagaimana caranya. Semua kata, rencana yang ingin kami kerjakan sepertinya tidak ada yang akan dapat menghibur dia. Dan yang lebih mengkhawatirkan, ketika kami berkunjung, mungkin dia akan iri dengan kondisi kami yang masih sehat. Ini bukan mengada-ada. Dulu ada seorang ibu, orangtua teman saya yang sudah lama menderita penyakit lupus dan membuatnya harus mengkonsumsi obat banyak sekali, mengatakan kepada saya, "Senang ya kamu masih sehat!" Mendengar ini, saya bukannya merasa bahagia, tetapi hati saya tersadar, "Inang ini iri dengan saya!" Jadi, begitulah, rencana hanya rencana untuk mengunjungi rekan kerja saya ini.

Wednesday, August 24, 2022

Ghibah

Ghibah itu ternyata berasal dari kata dalam bahasa Arab Øºِيبَ giba, yang artinya dalam bahasa Indonesia sama dengan kata gunjing. Nah, definisi ghibah atau gunjing itu sendiri, saya pakai dari Wikipedia, adalah pembicaraan yang jahat tentang seseorang yang tidak hadir. Hal yang menarik dari tambahan definisi dari laman tersebut adalah bahwa pembicaraan jahat itu benar adanya, tetapi TIDAK PENTING, karena tujuannya agar kata-kata tersebut menyakiti orang yang dibicarakan. 

Kata ghibah ini bukan kata yang baru dalam deretan dosa yang dilakukan manusia, dan mungkin paling diiminati dan dikerjakan karena hubungan satu sama lain tidak terganggu meskipun sudah saling menyakiti lewat ghibah. Ini mirip dengan kata SELINGKUH, selingan indah keluarga utuh. Iya, ghibah itu gak dianggap dosa karena hanya yah, selingan aja, toh yang dibicarakan adalah yang benar, meskipun tidak penting. Belakangan ini, saya sering melakukannya. Dan masa hibernasi ini membuat saya berpikir, mengapa saya suka berghibah?

Friday, June 3, 2022

Duta

Ada satu hal menarik yang menggelitik pikiran saya ketika mendengar  Nadia Tjoa menceritakan satu peristiwa 'tidak mengenakkan' dengan Ivan Gunawan, mentornya yang disebutnya tegas. Nadia tidak menyangka bahwa salah satu swafoto yang diunggah di medsosnya membuat Ivan mengirimkan pesan WA begitu panjang. "Kamu pikir kamu ini siapa?" ketik Ivan menanggapi swafoto Nadia tanpa make-up. Langsung saja, Nadia menurunkan swafoto tersebut dan tidak lagi berani melakukan hal yang sama. Dalam acara itu, Ivan mengungkapkan bahwa ia ingin mengajarkan Nadia bahwa dia bukan lagi dirinya yang dulu, sebelum menjadi Miss Face of Humanity. Segala sesuatu sudah berbeda. Nadia harus membiasakan diri dengan dirinya yang baru, tidak bisa semaunya mengunggah swafoto yang merusak citra sebagai Miss tersebut. Sekarang Nadia adalah duta predikat itu. 

Seorang Kristen juga duta Kristus. Ketika menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita menjadi ciptaan baru. Seperti Nadia, kita harus membiasakan hidup sebagai seorang duta predikat itu, tidak bisa sama dengan yang lain. Ada peringatan keras yang diberikan untuk orang Kristen di suatu daerah dalam 1 Petrus 4 dan 2 Petrus 3, dan juga sangat relevan dengan kondisi orang-orang Kristen saat ini. Di dua kitab tersebut diingatkan bahwa orang Kristen tidak boleh hidup seperti cara orang-orang yang tidak mengenal Allah hidup (1 Petrus 4:2), dan betapa saleh kita harus hidup (2 Petrus 3:11).

Menganggap Sepi

Semalam, saya marah sekali pada keponakan-keponakan saya, terutama keponakan pertama. Pasalnya, saya melihat dia sedang bermain gim daring ,...