Showing posts with label Catatan Penting. Show all posts
Showing posts with label Catatan Penting. Show all posts

Friday, August 14, 2026

Hidup di Jalan

"Hebat lu, kuat pulang-pergi sejauh itu"

"Jauh banget rumahnya, gak mau cari yang deket aja?"

Ah, macam-macamlah yang dikatakan teman-teman sekerja saya setelah tahu saya menempuh jarak sejauh itu tiap hari, dan fun fact-nya, tidak terlambat ke kantor. Yey!

Tapi bukan itu yang mau saya ceritakan. Bukan tidak lelah atau bosan jika saya ikutan merenungkan kata-kata mereka, tetapi saya baru menyadari satu hal. Bagi saya, mengendarai motor di jalan mulus seperti BSD City itu sungguh menyenangkan. Bahkan, jadi semacam healing atau meditasi singkat. 

Sore ini, saya mendapatkan insight itu. Saat motor saya melaju bersama motor lainnya, dan kendaraan lainnya, saya melihat situasi ini mirip dengan kehidupan. Diawali dengan mengejar waktu karena jadwal kereta, saya berusaha mencari-cari sisi kosong di tengah-tengah kemacetan di beberapa titik jalur yang sering saya lewati. Di saat ini, saya perlu berkonsentrasi melihat keadaan jalan di depan dan di belakang, lewat kaca spion. Jika dirasa aman, saya memberanikan diri mengambil sisi yang sudah ditargetkan. Ini terjadi berulang-ulang, berkonsentrasi dan mengambil keputusan, sehingga saya perlu 'membebaskan diri' dari hal-hal kurang penting, 

Biasanya saya mengamankan barang-barang berharga di bagasi motor, lalu yang kurang berharga dicantelkan saja. Lalu, saya perlu bercelana panjang, berjaket dilapisi penahan angin, memakai helm bersih transparan, jika terik, ada kaca gelap, bersarung tangan, bermasker, dan bersepatu. Tidak saya izinkan diri memakai sandal karena kecelakaan beberapa kali menyadarkan saya bahwa bagian kaki, terutama jari-jari sangat rentan terluka parah jika jatuh. It's a big NO buat saya berkendaraan sambil mendengarkan musik atau suara lainnya dari headset. 

Thursday, August 6, 2026

Kehadiranmu

Hari ini kami membahas tema mengenai penolong. Dan, masing-masing kami menceritakan pengalaman ditolong. Saya berusaha mencari-cari pengalaman profesional yang membekas di hati. Ada banyak tetapi satu yang ingin saya ceritakan karena unik. Di suatu masa, saat muda, saya melakukan hal yang spontan, tidak dipikir masak-masak, tetapi di akhir mengakibatkan penyesalan. Saya dibawa ke ruang dekan untuk mempertanggungjawabkan perbuatan saya dan mendapatkan hukuman. 

Dalam kesendirian, saya mengingat kembali perbuatan saya dan hal yang seharusnya saya lakukan, yang sebenarnya lebih baik untuk dilakukan. Saya merasa kecewa, sedih, marah di saat bersamaan pada diri sendiri. Ternyata keadaan seperti itu dalam kurun waktu lama dapat menyebabkan beban nyata di tubuh. Saya katakan kepada diri sendiri bahwa nasi sudah jadi bubur, dan terima nasib saja. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Seseorang masuk melaluinya. Seseorang yang saya kenal. Kami bertatapan, bingung. Lalu, kami berdua tertawa terbahak-bahak. 

Wednesday, November 5, 2025

Menganggap Sepi

Semalam, saya marah sekali pada keponakan-keponakan saya, terutama keponakan pertama. Pasalnya, saya melihat dia sedang bermain gim daring, sepertinya Mobile Legend atau sejenisnya. Saya bertanya kepadanya apa manfaat memainkan gim tersebut, dan dia bilang baru mulai sebentar. Itu tidak menjawab pertanyaan sama sekali. Saya kecewa karena dia menganggap sepi fasilitas internet, dan yang lainnya, dan hanya menggunakannya untuk kesenangan. Saya tidak anti dengan kegiatan santai sejenak, hanya saja sebaiknya memilih kegiatan yang bermanfaat. Salah satu gim daring yang bermanfaat, menurut saya adalah catur.

Saya katakan kepadanya, "Kamu tidak membayar untuk koneksi internet yang baik di rumah ini. Juga tidak harus mengeluarkan tabunganmu untuk mengisi daya telepon genggammu setelah dipakai habis bermain gim daring. Kamu merasa semua fasilitas itu bisa kamu pergunakan sesukamu, dalam waktu tidak terbatas, dan untuk keperluan yang kamu tentukan sendiri. Semua tentang dirimu dan kepuasanmu. Kamu tidak sadar bahwa sebenarnya kamu "membayar" dengan waktumu." Fasilitas yang seharusnya dipakai untuk belajar dan berkarya dipakai untuk hal yang sia-sia. Ia menganggap sepi kebaikan orang-orang yang sudah membuat fasilitas itu ada di rumah kami. 

Thursday, April 10, 2025

Kreativitas

Gue merasa belakangan ini, dan karena umur, tingkat kreativitas gue menurun. Keinginan menulis gue juga ikut menguap, sebatas menulis untuk urusan curhat dan melaporkan kejadian. Seperti hilang minat dan semangat, tetapi tidak seperti orang yang hilang harapan sehingga bunuh diri. Bukan seperti itu. Sekali lagi, saya memang menyalahkan faktor tunggal, yaitu umur. Faktor U, jadi 'tersangka' utama yang menghilangkan banyak sekali hal sederhana, seru dan mudah untuk dilakukan ketika masih muda. Di umur 48 tahun ini, hanya untuk memutuskan nongkrong sehabis kerja saja mikirnya berlama-lama karena memikirkan perjalanan pulang yang lumayan jauh dan uang keluar yang tidak diprediksi sebelumnya. 

Otak gue sebenernya gak buntu-buntu amat. Ada saat-saat di mana keinginan kuat untuk menulis itu timbul, tapi segera padam waktu gue buka hape. Distraksi, ya benar. Nah, gue tersadar ketika sudah membuang waktu cukup banyak, sehingga hanya tersisa waktu untuk melakukan rutinitas di rumah serta berbenah diri, atau mempersiapkan keperluan esok hari. Dan, setelah menyelesaikan semuanya, gue ngantuk selalu di waktu yang sama, yaitu 20.00 WIB. Yep, gue mengusahakan untuk tidur lelap tiap hari selama 8 jam sehari. Badan gue gak bisa seger kalau tidak tidur cukup. Jadi, udah ketahuan nih, 'tersangka' keduanya adalah distraksi. 

Thursday, January 16, 2025

Kita - Kami

Zaman sekarang kita - kami seringkali dipakai secara bergantian. Padahal kedua kata ganti orang ini memiliki makna yang sama sekali berbeda. Menurut saya, ini juga salah satu kekayaan bahasa Indonesia. Di dalam bahasa Inggris, kita dan kami diberi satu kata, yaitu we. Di bahasa Perancis menggunakan kata nous saja. Bahasa Cina menggunakan kata women. Dari tiga contoh ini saja, saya bisa menyimpulkan perbedaan kami dan kita ini merupakan keunikan bahasa Indonesia. Sayangnya, orang Indonesia sendiri salah menggunakan kedua kata ini. 

Menurut KBBI, kita adalah orang yang sedang berbicara bersama orang lain, termasuk mereka yang diajak bicara. Sedangkan, kami adalah yang berbicara bersama dengan orang lain (tidak termasuk yang diajak berbicara); yang menulis atas nama kelompok, tidak termasuk pembaca.Jadi, jika ada orang yang berkata bahwa keduanya sama, ya berarti tidak tahu perbedaan dasar ini. Ketika saya menyampaikan informasi ini, berbagai reaksi saya dapatkan, dari yang tidak percaya hingga tidak mau menggunakan kata yang benar. Aneh, bukan?

Monday, September 23, 2024

Tidak Mau Tahu

Kami cenderung mendiskusikan hal-hal penting secara acak. Seperti pagi ini, saya dan rekan kerja sekaligus bestie membicarakan tentang space dust. Artikel menarik ini ditemukan oleh teman saya ketika sedang mempersiapkan diri mengikuti tes CEPT untuk guru bahasa Inggris. Di saat yang sama, saya sedang menguji coba moodle course untuk materi library time. Jadi, saat itu kami sedang sama-sama terdiam, memusatkan perhatian pada tampilan di depan mata. 

Tiba-tiba teman saya bersuara, "Eh, tau gak di artikel ini disebutkan bahwa sebenarnya tiap saat bumi kita dihujani oleh micrometeorite yang mengandung molekul air dan organik kompleks. Seorang musisi jazz Norwegia menjadi sangat tertarik dengan penemuan ini dan mulai mencarinya. Tetapi sayangnya, oleh debu-debu sampah yang dihasilkan dari kehidupan di bumi, micrometeorite ini tertimbun dan hampir mustahil menemukannya, kecuali di daerah Antartika!" ujar teman saya, sambil menatap wajah saya, menangkap ekspresi yang saya perlihatkan dari fakta ini. "Wow, itu seperti manna dari surga! Ternyata Tuhan masih mencurahkan manna dari atas yang tidak kita sadari," ujar saya. Kami berdua bergantian menyatakan kekaguman kepada Tuhan atas hal baru yang kami dapat dari buku itu. 

Wednesday, May 15, 2024

Guilt and Shame

Ada perkataan bijak berbunyi seperti ini, "Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!" Kebenaran dari perkataan ini selalu relate di setiap zaman. Pada banyak kasus, mereka yang menyangka dirinya sangat teguh, justru yang pada akhirnya jatuh. Saya merasa sayalah salah satu dari mereka itu. Kejatuhannya tidak pada taraf yang ekstrim, tetapi akibatnya sangat mengganggu dan hampir putus asa. Di dalam hati ada gemuruh, tetapi di luar harus terlihat profesional dan tenang. 

Saya dihinggapi guilt and shame. Sebelumnya, saya hanya merasakan kedua emosi ini secara terpisah. Guilt atau perasaan bersalah terjadi karena saya melakukan sesuatu atau mengeluarkan perkataan yang salah, dan biasanya saya minta maaf atau memperbaiki perilaku. Shame atau rasa malu pernah saya rasakan ketika tindakan atau pikiran saya tidak selaras dengan identitas saya. Biasanya, perasaan itu akan hilang seiring berjalannya waktu. Kali ini berbeda, saya merasakan keduanya di saat yang sama, dan sekali lagi saya katakan, itu sangat tidak nyaman. Saya tidak bisa tidur tenang dan beraktifitas dengan damai. Cuma satu pertanyaan di kepala saya, "Kok bisa?" Pertanyaan sederhana seperti itu menghasilkan efek yang dahsyat buat saya. "Kok bisa?" membuat saya menapak tilas di periode mana kemungkinan kesalahan itu dibuat dan dengan siapa saja saya sudah menceritakannya. "Kok bisa?" membuat saya mempertanyakan rasionalitas, perhitungan serta kewarasan sebagai wanita dewasa di umur yang tidak sedikit, yang seharusnya sudah bisa meramalkan yang akan terjadi. "Kok bisa?" membuat saya menyesali mengikuti hati dan mengambil (lagi) otak saya dalam membuat keputusan yang terlihat maupun tak terlihat. Bisa lihat kan? Pertanyaan sederhana itu tidak sesederhana itu untuk dijawab oleh saya.

Sunday, October 22, 2023

Resah

Kumenatap lamat-lamat layar komputerku, sederet tugas mengantri sudah. Ketika jari-jari mulai menyentuh papan ketik, pikiranku tidak berada di sini. Ke mana dia? Lantunan suara saksofon melegakan hati, menerbangkan pikiranku hingga ke luar ruangan. Aku ada di sini, di momen ini. Terbayang aku beberapa tahun lalu, berpuluh sebenarnya, ketika aku sibuk mengirimkan lamaran ke sana ke mari. Inikah tempat yang aku inginkan? Aku berusaha masuk ke dalam aku yang masih muda. Aku yang hanya tahu aku harus bekerja di kantor. Dulu, penglihatanku masih baik sekali. Jadi, aku sering mengetik lamaran tanpa bantuan kacamata. Meskipun demikian, penglihatanku pendek jaraknya. Aku belum bisa melihat arah hidupku. Sekarang aku di sini. Wah, betapa cepat waktu berlalu. Apakah aku harus bangga dengan diriku yang sekarang? Seharusnya, ya. Dari pekerjaanku, meskipun tidak ideal, aku bisa memiliki sebuah rumah dan mobil. Semua yang aku inginkan ada di sini. Tetapi, aku resah.

Aku menyalahkan segelas kopi yang rutin kuminum setiap pagi. Mungkin itu yang menyebabkan jantungku kurang bugar, tubuhku yang seringkali kelelahan sepulang kerja, atau kakiku yang lekas terasa pegal. Maka, aku mengurangi asupan kopi menjadi sekali seminggu saja. Pagi ini, jatahku membuat kopi hitam ditambah susu karamel, rencananya aku mau menambahkan gula aren. Ternyata, dua kotak susuku hilang dari kulkas kantor. Pupuslah harapanku meminum kopi enak sesuai standarku. Seorang teman baik menawarkan stok susu cair tanpa lemaknya kepadaku, cukup menghiburku pagi ini. Jadi, aku dan kopi susu-di-bawah-standar ini mencoba bekerja. 

Tetapi, aku resah. 

Thursday, August 10, 2023

Pernikahan

Pernikahan itu seperti perjalanan melalui laut menggunakan perahu, bisa terbuat dari apa saja. Tentunya, bahan pembuat perahu haruslah yang baik dan fasilitas di dalam perahu perlu yang terbaik agar perjalanan lancar. Perahu yang diisi dua manusia, laki-laki dan perempuan, pastinya punya tujuan bersama, ke suatu tempat yang indah bersama-sama. Di awal perjalanan, ketika pertama kali melepaskan diri menjauh dari pantai, semua pemandangan terlihat indah. Tidak banyak hal yang membuat gundah gulana. Mereka berdua saling tersenyum, membenamkan diri ke tubuh satu sama lain, saling memiliki. Harapan mereka tinggi akan hari esok, menua bersama dalam kegembiraan tak putus.

Pantai menjauh dari pandangan mata, menjadi hanya segaris batas horizon. Melihat ke bawah, air laut membiru kelam, tak seperti pemandangan di pinggir pantai. Ikan-ikan dan terumbu karang berwarna-warni digantikan dengan ketidakpastian mahkluk di bawah sana dan buih, terkadang ada saja sampah yang mengapung. Perahu itu menjadi terlalu kecil bagi mereka berdua. Mereka mulai berpikir untuk memperlebar perahu itu, mengembangkan layar, memasang penutup dan segala pekerjaan lainnya yang diperlukan untuk kenyamanan hidup bersama di tengah laut. Mereka selalu sibuk, selalu saja ada pekerjaan yang harus dilakukan, ada saja hal-hal yang salah yang perlu diperbaiki. Mereka jadi jarang berkomunikasi, terlalu banyak pekerjaan, terlalu lelah untuk mengucapkan kata itu. Aku cinta padamu. 

Monday, February 27, 2023

Overthinking dan Asam Urat

Apa hubungannya? Saya juga baru tahu tadi, ternyata kedua hal itu, overthinking dan asam urat ada persamaan. Begini awalnya saya mendapatkan "pencerahan" itu. Pembicaraan mengenai overthinking dan asam urat datangnya bersamaan. Saya mulai dari pembicaraan tentang asam urat. Saya punya teman penderita asam urat akut. Salah satu petugas kebersihan di kantor saya 'curhat' kepada teman saya tentang ibunya yang sakit asam urat. Teman saya yang sudah 'ahli' karena berpengalaman menghadapi serangan segera memberikan tips penanganannya. 

Bagi saya yang tidak punya pengalaman terserang asam urat, informasi itu hanyalah berguna sebagai pengetahuan saja. Tetapi saya tetap mendengarkan karena ada hubungan yang cukup erat dengan penyakit mental yang bernama overthinking. Seperti asam urat, overthinking sebetulnya bisa diatasi ketika masih dalam bentuk serangan-serangan kecil. Kalau asam urat, pencegahannya tentunya dengan mengkonsumsi makanan yang dianjurkan, berolah raga dan menjaga bobot tubuh. Sedangkan overthinking, pencegahannya dengan mengkonsumsi (memasukkan) informasi yang benar ke dalam pikiran, berolah raga agar hati lebih senang dan mengucap syukur. 

Thursday, December 8, 2022

Hidup Lebih Berharga Dari...

Pagi ini, setelah renungan pagi bersama, kami dikabari berita yang kurang menggembirakan mengenai kondisi kesehatan seorang rekan kerja yang sudah lama sakit. Setelah menjalani pemeriksaan menyeluruh, hasil laporannya ternyata tidak baik, stadium 4, lanjutan dari penyakit yang dulu pernah dinyatakan sudah "bersih". Kali ini, dengan kondisi tubuh yang tidak lagi sekuat vonis pertama, dia tidak mau menjalani kemoterapi. Dan, yang paling mengganggu dari semua berita itu adalah dia mengatakan kali ini rasa takut dan khawatirnya lebih besar dibandingkan yang pertama. 

Saya turut sedih, ingin menghibur, tetapi tidak tahu bagaimana caranya. Semua kata, rencana yang ingin kami kerjakan sepertinya tidak ada yang akan dapat menghibur dia. Dan yang lebih mengkhawatirkan, ketika kami berkunjung, mungkin dia akan iri dengan kondisi kami yang masih sehat. Ini bukan mengada-ada. Dulu ada seorang ibu, orangtua teman saya yang sudah lama menderita penyakit lupus dan membuatnya harus mengkonsumsi obat banyak sekali, mengatakan kepada saya, "Senang ya kamu masih sehat!" Mendengar ini, saya bukannya merasa bahagia, tetapi hati saya tersadar, "Inang ini iri dengan saya!" Jadi, begitulah, rencana hanya rencana untuk mengunjungi rekan kerja saya ini.

Wednesday, August 24, 2022

Ghibah

Ghibah itu ternyata berasal dari kata dalam bahasa Arab Øºِيبَ giba, yang artinya dalam bahasa Indonesia sama dengan kata gunjing. Nah, definisi ghibah atau gunjing itu sendiri, saya pakai dari Wikipedia, adalah pembicaraan yang jahat tentang seseorang yang tidak hadir. Hal yang menarik dari tambahan definisi dari laman tersebut adalah bahwa pembicaraan jahat itu benar adanya, tetapi TIDAK PENTING, karena tujuannya agar kata-kata tersebut menyakiti orang yang dibicarakan. 

Kata ghibah ini bukan kata yang baru dalam deretan dosa yang dilakukan manusia, dan mungkin paling diiminati dan dikerjakan karena hubungan satu sama lain tidak terganggu meskipun sudah saling menyakiti lewat ghibah. Ini mirip dengan kata SELINGKUH, selingan indah keluarga utuh. Iya, ghibah itu gak dianggap dosa karena hanya yah, selingan aja, toh yang dibicarakan adalah yang benar, meskipun tidak penting. Belakangan ini, saya sering melakukannya. Dan masa hibernasi ini membuat saya berpikir, mengapa saya suka berghibah?

Friday, June 3, 2022

Duta

Ada satu hal menarik yang menggelitik pikiran saya ketika mendengar  Nadia Tjoa menceritakan satu peristiwa 'tidak mengenakkan' dengan Ivan Gunawan, mentornya yang disebutnya tegas. Nadia tidak menyangka bahwa salah satu swafoto yang diunggah di medsosnya membuat Ivan mengirimkan pesan WA begitu panjang. "Kamu pikir kamu ini siapa?" ketik Ivan menanggapi swafoto Nadia tanpa make-up. Langsung saja, Nadia menurunkan swafoto tersebut dan tidak lagi berani melakukan hal yang sama. Dalam acara itu, Ivan mengungkapkan bahwa ia ingin mengajarkan Nadia bahwa dia bukan lagi dirinya yang dulu, sebelum menjadi Miss Face of Humanity. Segala sesuatu sudah berbeda. Nadia harus membiasakan diri dengan dirinya yang baru, tidak bisa semaunya mengunggah swafoto yang merusak citra sebagai Miss tersebut. Sekarang Nadia adalah duta predikat itu. 

Seorang Kristen juga duta Kristus. Ketika menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita menjadi ciptaan baru. Seperti Nadia, kita harus membiasakan hidup sebagai seorang duta predikat itu, tidak bisa sama dengan yang lain. Ada peringatan keras yang diberikan untuk orang Kristen di suatu daerah dalam 1 Petrus 4 dan 2 Petrus 3, dan juga sangat relevan dengan kondisi orang-orang Kristen saat ini. Di dua kitab tersebut diingatkan bahwa orang Kristen tidak boleh hidup seperti cara orang-orang yang tidak mengenal Allah hidup (1 Petrus 4:2), dan betapa saleh kita harus hidup (2 Petrus 3:11).

Wednesday, May 11, 2022

Kerja Kerja Kerja


Beberapa hari ini saya merenungkan tentang bekerja. Gak, saya tidak anti bekerja. Saya senang bekerja, apalagi pekerjaan fisik. Bekerja membuat saya berkeringat dan sehat. Saya pernah bekerja di sebuah perusahaan di bidang housekeeping and I really loved it. Namun, karena jam kerja yang terlalu panjang sehingga tubuh saya kelelahan, saya tidak punya waktu untuk membaca. Bagian ini yang saya tidak suka dari bekerja secara fisik. Akhirnya, saya berhenti dari pekerjaan itu dan mendapatkan pekerjaan yang lain. Intinya, saya tidak punya masalah dengan bekerja.

Belakangan, saya melihat pekerjaan saya sekarang ini sungguh memberatkan. Saya tidak punya sasaran yang mau dicapai, sesuatu yang ingin dikejar dari pekerjaan saya. Setiap hari, ketika saya harus bangkit dari tempat tidur dan bersiap ke kantor, saya tidak senang. Bukan karena ingin bermalas-malasan lebih lama, tetapi lebih karena membayangkan pekerjaan di kantor yang kurang menantang. Seorang teman mengatakan mungkin karena saya sudah terlalu lama di kantor ini. Saya tidak suka keadaan seperti ini. 

Tuesday, March 15, 2022

Pagar Itu


Sebetulnya saya sudah merasa hari ini bakal "spesial". Sudah merasa malas beranjak dari tempat tidur sedari pagi, keluar dari kos juga sudah telat. Tetapi saya bosan di kos. Padahal badan seperti lemas gak jelas gitu. Pergi aman, pulang aman. 

Sore ini hujan, tetapi tidak seperti biasanya, badai. Hujan badainya sudah berlalu sejam yang lalu. Kini yang tersisa rintik berkelanjutan. Setelah memarkir mobil dengan jarak cukup dekat dari sebelah kiri, supaya motor para indekos yang lain bisa masuk dengan mudah, saya menutup pintu dengan semangat. Demi menghindari hujan. 

Sangking semangat, saya tidak menyadari bahwa saya sudah menarik hingga ujung pagar, Saya pikir pagar itu punya stopper. Ternyata, tidak. Pagar itu keluar dari rel dan saya tidak sanggup menahannya. Pagar itu terpelanting ke arah depan. Pagar kecil yang menyertainya ikut terlepas dari engsel. Hati saya sangat kacau. Malu bercampur takut. Malu, karena lagi-lagi saya yang "bikin ulah" di kos ini. Sudah pernah menabrak, menyerempet, dan kali ini menjatuhkan. 

Saya lihat kiri, ada ibu berjilbab menatap kaget. Lalu di sebelah kanan ada bapak pekerja proyek sepertinya menatap begitu saja sambil terus bekerja. Hari itu masih hujan. Tas dan bawaan lainnya sudah ada di depan pintu kos, terbebas dari hujan. Saya pikir hari ini akan panjang. Masalahnya, kalau pagar itu terbelah maka akan merepotkan bahkan membahayakan banyak orang. 

Saya angkat itu pagar dengan semangat yang ada, paha kiri saya terkilir, sakit sekali rasanya, tetapi saya tetap berusaha mengangkat dan menempatkannya pada relnya. Seorang bapak ojek pengantar makanan, dengan jas hujannya, bertanya, "Neng, mau dibantu?" Dia turun dari motornya. Saya lihat antaran makanannya belum lagi sampai ke pemesan. 

"Aduh, paha saya!" saya tidak kuat untuk tidak berucap karena sakit sekali hingga membuat saya menahan napas. Saya membantu si bapak untuk mengepaskan roda pada rel. Saya bermaksud mengambil pintu kecilnya tetapi si bapak melarang. "Biar saya saja Neng!" tetapi tetap saya membantu mengepaskan ke engsel. Pekerjaan "perbaikan" pun selesai. Saya berterima kasih banyak, tidak bisa memberi apa-apa karena berjalan saja sulit. 

Saya pun mengunci pintu. Si bapak melanjutkan pengantaran.

Hujan masih turun. Hati saya bersyukur sekali. Tuhan Yesus baik. Roh Kudus baik. Bapa di surga baik. 


Thursday, March 10, 2022

It Was Raining Cats and Dogs


The thunder struck. It was raining cats and dogs. It wasn't that way when I drove my car out of my office. Yes, the wind blew so hard and the sky was dark, but I thought I would arrive at my room when the rain fell. It did not. About 5 minutes leaving my office, drops of rain began to blur my vision. I turned on the wipers. The rain was heavier and heavier that I had to wiped the front window. I turned on the AC to clear the mist in my car window, but it didn't work. So, I pulled aside somewhere, in a nearby office park and wiped the window again. I started to move again. I realized I couldn't see anything through the 3 rear windows. But I thought it was okay. 

So, I drove carefully, the street was half-crowded, the rain was like being poured out from the sky. I couldn't see anything. I just focused on the lights from other vehicles. I was so tensed. It was my first time driving under the rain. And it was dark. There were times I just opened my windows to have better sight, but not too long because the rain went in. I leaned forward to have a full concentration on the driving and the situation on the street. 

I realized there was a big car next to me, planned to slip my car to go ahead of me but failed because my car blocked his way. When I finally made it to take my car to the left side, the turn I wanted to turn left (there are two left-turns), the big car sped up and moved ahead of me. The driver opened his window and gave a stern look at me. Well, I didn't feel bad cos at that time I chose to drive slowly to avoid colliding with other vehicles. The street narrowed, but the traffic wasn't better. The visibility was 1-meter away. When finally I made it to my room, I parked outside, 'cos it was still raining cats and dogs.

It was my first time and a good lesson for me, I thanked God for leading me out of the storm.


Thursday, February 17, 2022

When None Was There

On February 14th, 2022, I made an appointment with Pak Wi, but he couldn't make it since he was isolated due to Covid-19, he was just suspected because he drove in someone who was infected. So, I was alone, none would be on my side to help me out when I got troubled in driving my car to kost. I panicky contacted all who I thought must have someone they could count on when facing the same problem. But none could help me. I have a friend who has a son, I thought I could ask her help, but I didn't do it. All my collegues went home one by one, and the last one was the one whose office in the front desk, where I tried so hard to find help

I couldn't find anyone. It was 5 p.m.

Before going home, my friend said, "Bye, Ms., too bad that you are alone now," with a smirking face. I felt ashamed 'cos in my mind, I felt like everyone mocked at me. 

Remembering the effort I took to get the car, it wasn't there instantly. I had to ask Pak Wi to come to Jakarta, to get the car. We went there by bus, then by online taxi. It was almost dark when we arrived at my home. At first, I was about to go with him back Karawaci and parked the car in my office, but then my brother asked Pak Wi to take it by himself. Pak Wi was agreed. 

For 2 days, I didn't dare to drive the car. My friend offered herself to accompany me to drive. I agreed and when we got to the parking lot, and my friend saw I had difficulty in moving the car forward. She decided to leave. I just grinned and continued with the driving. I was successfully driving the car going around the building area. 

The next day,  I drove it with Pak Wi accompanying me. My heart pounded. When we were near the gas station, Pak Wi took control of the steer. We continued with the plan for that day. The next morning was the time when I drove alone, Pak Wi followed my car by riding his bike. 

And now, Pak Wi wasn't available, and I had to go home.

I prayed hard but then, there was none. I realized something, it was like an encouragement. It was the Holy Spirit. If God doesn't send me anyone to help, it means He will be there to help me. That thought was so strong, and my feet followed. 

I remembered praying all the way to kost. My car engine stopped twice or thrice, but there was a comfort in my heart, I wasn't panicky. I was so fully concentrated to drive that I was so stressful and felt nausea, Thank God I made it. I told everyone about this and they were happy with me. 

Yes, when God doesn't send anyone for giving a help, He wants to do it himself. 

Thursday, February 10, 2022

Letting Go Off the Fear Day #1

I have no choice, I got to master driving my car. There's a constant struggle in myself, it appears in my dream at nights. But, I have no choice. I have to fight the fear. I have to let it go off, away from my life. I remind myself that it's good that at least, I try. Of course, I pray. I ask God to help me.

This morning, I asked Pak Wi to accompany me to drive to my workplace. It turned out that he rode his motorbike, therefore, he can't be in the car with me, sit beside me. I did make the car out of my tiny garage. I thought I wouldn't make it. But I did. Thank God. So there I was, alone in the car, thinking all by myself. 

First obstacle, there was grocery man on his bike, opposite of me. I waved my hand to tell him to go first. He understood, thank God. And on my right a head, there's a small river. My heard pounded, I didn't want to fall into it. So, I turned the steer wheel to the left. Thank God, there was no crowds. 

The second obstacle was the steep. It wasn't that bad, actually but I kept making the same mistakes. Thank God, I had Pak Wi on his bike to help me. 

The third obstacle, there was a car slipped through my way, made the left turn. I was shocked but since my speed was low, I managed to push the break knob. My friend, who was already in the office, said that thing happened all the time, so we need to be alert at all time.

The last obstacle was parking, and I bumped my car. At least, I made it to drive to office. Now, I feel exhausted. 

Driving a car takes great responsibility, you can hurt yourself or others, so stay away from disruptions, And she welcomes me to the club :D

 

Saturday, January 15, 2022

Peranan Roh Kudus dalam Penciptaan dan Pernyataan

Tanpa pertolongan dari Roh-Nya, kita tidak dapat memahami Tuhan. Jika Roh Allah tidak ada dalam diri seseorang, maka ia tidak mugkin dapat memahami Allah. Sama seperti kita tidak bisa memahami suatu bangunan tanpa kita mengenal ahli bangunan itu. Kejadian 1:2, Roh Allah melayang-layang tetapi sesungguhnya Ia memiliki tahta. Ibrani 3:3-4 seorang ahli bangunan lebih dihargai daripada ciptaannya. Seorang ahli bangunan dihormati karena hasil ciptaannya. Keluaran 31:3-4 betapa besar hikmat dan kuasa yang dimiliki Roh Allah. Yesaya 14 menceritakan dengan suatu tahta yang menjadi tempat Yang Mahatinggi yang kita kenal dengan Allah. Yohanes 14:26 Allah itu adalah Roh. Roh Allah yang melayang-layang di atas permukaan air, berarti air ini sudah ada. Air laut taat. Ayub 38:8-11 Roh Allah yang mengatur laut yang congkak ini. Ayub 38:25-27, tanah pun taat atas perintah Allah untuk menumbuhkan tunas-tunas. Hujan pun tetap turun pada masanya. Ayub 37,38,39 itu hanyalah sedikit bagian mengenai kedahsyatan yang dilakukan oleh Allah yang adalah Roh. Mengenal Allah dari atribut Allah. Mazmur 139, 1 Korintus 2:10-11 Allah Mahatahu. Matius 19:26, Zakaria 4:6 Mahakuasa, Yesaya 44:6-8 Allah itu Mahaada.  Ayub 27:2-3 tubuh kita hidup tergantung pada ada atau tidaknya Roh Allah. Kejadian 1:24 bumi setia untuk mengeluarkan segala jenis mahkluk hidup, binatang melata dan segala jenis binantang liar. Mazmur 24, 17:24, 76:28, 104 kebesaran Tuhan di dalam segala ciptaan-Nya. Semua yang dikatakan oleh Daud, Ayub, di kitab Kejadian, semua tercipta ketika Allah mengirimkan Roh-Nya. Jadi jelas bahwa Allah terlibat dalam penciptaan. Semua mujizat hanya untuk menceritakan betapa besarnya Allah itu. Dan kita tidak akan sanggup mengerti, mengenal, memiliki pengertian dan pengetahuan akan hukum dan aturan-Nya, dan tidak mampu mengakui Allah. Kita tidak perlu takut akan hal apa pun karena Roh Allah itu. Roh Allah yang mengatur kehidupan agar bisa berkenan bagi Dia. 

Thursday, September 9, 2021

Situs Jodoh

Pagi ini saya memimpin devosi guru dan staf di sekolah saya, diinspirasi dari buku Rahmat-Nya Baru Setiap Pagi, karangan Paul David Tripp. Pertama kali baca bahan devosinya, saya merasa heran dengan pertanyaan yang diberikan, "Mungkin, hari ini engkau menginginkan Yesus sebagai situs jodoh yang akan memberimu pasangan. Dia akan menjadi Pribadi yang kau butuhkan, yaitu Raja dan Juruselamat yang berdaulat." Situs jodoh? Oh maksudnya, mempertemukan kita dengan orang-orang yang baik yang bisa memenuhi kebutuhan kita akan kasih, perhatian, dan mungkin kebutuhan fisik seperti uang. Padahal, hanya Tuhan yang bisa memenuhi segala kebutuhan saya dalam relasi dengan sesama. Saya juga pernah menginginkan Yesus sebagai situs jodoh, malah terkadang masih saya lakukan sampai sekarang. Saya ingin memiliki relasi hanya dengan orang-orang yang match dengan saya. 

Yesus Kristus bukan situs jodoh, Ia Raja. Perintah-Nya yang terutama di Markus 12:30-31, "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini". Ia mengatakan hal yang sama di Yohanes 14:15 "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku." Sebelum naik ke surga, Ia juga berpesan di Matius 28:18-20, "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." 

Dijauhkan dari Kecurangan

Setiap pagi, di hari kerja, saya melajukan kendaraan di jalan menembus pagi yang mulai merekah. Biasanya, lalu lintas tidak ramai, seperti m...