Showing posts with label Cerita Pendek. Show all posts
Showing posts with label Cerita Pendek. Show all posts

Sunday, November 5, 2023

Tugas Penggembalaan

Kepergian Kak Jo memberikan pelajaran kepada saya dan gereja mengenai tugas penggembalaan. Saya baru mengerti bahwa tugas penggembalaan bukan hanya tugas gembala sidang a.k.a pendeta, melainkan tugas bersama seluruh anggota jemaat meskipun di 1 Petrus 5:1-4 itu nasihat untuk penatua. Di gereja kami yang kecil, kami saling tahu kehidupan masing-masing. Menurut saya, memang seharusnya begitulah gereja, jemaatnya tahu kehidupan satu sama lain, bukan untuk bahan gosip, tetapi supaya bisa saling membantu. Keberhasilan dirayakan bersama, kegagalan diatasi bersama. Intinya, kami menikmati kesederhanaan persekutuan jemaat seperti ini. Hingga, satu hal Tuhan izinkan terjadi di dalam jemaat kami yang mengajarkan mengenai tugas penggembalaan. 

Ya, awalnya dari Kak Jo. Dia punya kecenderungan gula tinggi, namun abai mengecek kesehatan ke dokter maupun mengatur pola hidup, termasuk makanan. Sebagai sesama orang dewasa, kami mengingatkan, namun segan untuk bertindak lebih dari itu. Salah satu isteri pendeta kami memarahi, mengancam, membujuk agar dia peduli terhadap kesehatannya. Dia melakukannya karena kasih sayang, yang saya rasa tidak umum dilakukan. Jika tidak sayang, tidak mungkin dia putar balik arah dari perjalanannya yang jauh sekali ketika mendengar berita duka itu, menerabas hujan badai dengan mobil tuanya. Itu perbuatan yang berani sekali. 

Wednesday, October 25, 2023

What's Wrong With Me?

Dari pembicaraan mengenai topik-topik 'terkini' di kantor, kami berlanjut ke percakapan mengenai seorang teman yang 'gila' tapi seru sepertinya dia sudah mendapatkan cara untuk menunjukkan dirinya sendiri, baik talenta maupun hobinya. Teman 'gila' ini tidak mengikatkan diri dengan satu institusi, tetapi bekerja sebagai freelance untuk dirinya sendiri. Meskipun 'gila', sepak terjang teman ini tidak dapat dipandang sebelah mata. 

Lalu, kami membandingkan teman 'gila' ini dengan diri sendiri. What's so special about her? Kami bisa menulis lebih baik dari dia, bisa berbicara di depan umum dengan baik, memiliki titel yang sama dengannya, tetapi mengapa berbeda? Obrolan santai tapi serius ini membuat kami sama-sama berpikir, "What's wrong with me?"

Wednesday, January 11, 2023

Goodbye, Mumun!

My car, Mumun — I guess it’s time to say goodbye. She’s been with me through so many roads, storms, and near disasters that it almost feels wrong to let her go. But before I do, I want to tell her story — or maybe ours.

The scariest moment happened one Christmas holiday. I decided to take Mumun to Jakarta, thinking the highway would be the fastest route home. Everything went fine at first, until somewhere in the middle of the long, grey road, I felt something strange. Mumun began to lose her power. I tried not to panic — maybe I imagined it, I thought. I pressed the gas pedal harder, hoping she’d recover.

Then, the engine stopped.

It was raining that day — heavy but calm — and now I realize that was a blessing. Because of the rain, cars were driving slower than usual. If they hadn’t, things could’ve been much worse. I sat there, gripping the steering wheel, the sound of rain mixing with my heartbeat. I was alone. I didn’t know what to do, so I prayed. I turned the key again and again, whispering, “Please, God.”

After a few tries, Mumun came back to life.

I sighed in relief and drove again, but she wasn’t the same. The power was weak. And then, she stopped again — right in the middle of traffic near the Tanjung Priok toll gate. Cars were honking, people were impatient, and then I saw an ambulance trying to pass on my right. Right at that moment, the engine died once more.

Panic kicked in. I turned the key and pressed the gas, but there was no response. Then I noticed something — the road was slightly downhill. Maybe it was instinct, maybe it was grace, but I released the brake and let gravity help. Slowly, Mumun started to move, and somehow, we made it out of the highway.

The road to my house was another test. I took a smaller, quieter route, hoping it’d be easier — but of course, life had other plans. A car and a gerobak blocked the way at the same time. I couldn’t move, people started yelling, and I felt completely helpless. They didn’t know the gerobak couldn’t move aside. It was chaotic, humiliating even. But eventually, I made it home. Mumun’s engine released a puff of smoke as if to say, “That’s all I’ve got for today.” Only later did I find out she had been “dehydrated.”

A few days later, I drove her again — this time to my church’s Christmas gathering in Lenteng Agung. Four of us were inside, laughing and chatting, until the same problem came back. We didn’t know what to do, so we left Mumun in Kalibata and continued our journey by online taxi. I was worried sick. Thankfully, my friends later helped me, and Bang Alex figured out the issue and fixed it.

On the drive back, though, I couldn’t shake off the fear of the engine stopping again. It made me press the gas harder than I should have — too hard, maybe — and I almost collided with another car at an intersection. My friend screamed, my heart stopped for a second, and I knew I’d pushed too far.

That night, shame hit me harder than fear. I could’ve hurt someone. I could’ve made things worse.

But later, when I told this story to a colleague, she smiled and said, “That’s something unforgettable — and precious.” And maybe she was right. Maybe all those moments weren’t just problems; maybe they were lessons — reminders that God’s protection is real, even in the middle of panic, rain, and engine smoke.

So now, as I prepare to say goodbye to Mumun, I choose to remember the good things: the roads we conquered, the prayers whispered in fear, and the quiet gratitude after every near-miss.

Thank you, Mumun, for every adventure — for being part of my story, for teaching me to trust, to stay calm, and to believe.

Goodbye, my loyal friend. You’ve served me well.

Friday, June 3, 2022

Duta

Ada satu hal menarik yang menggelitik pikiran saya ketika mendengar  Nadia Tjoa menceritakan satu peristiwa 'tidak mengenakkan' dengan Ivan Gunawan, mentornya yang disebutnya tegas. Nadia tidak menyangka bahwa salah satu swafoto yang diunggah di medsosnya membuat Ivan mengirimkan pesan WA begitu panjang. "Kamu pikir kamu ini siapa?" ketik Ivan menanggapi swafoto Nadia tanpa make-up. Langsung saja, Nadia menurunkan swafoto tersebut dan tidak lagi berani melakukan hal yang sama. Dalam acara itu, Ivan mengungkapkan bahwa ia ingin mengajarkan Nadia bahwa dia bukan lagi dirinya yang dulu, sebelum menjadi Miss Face of Humanity. Segala sesuatu sudah berbeda. Nadia harus membiasakan diri dengan dirinya yang baru, tidak bisa semaunya mengunggah swafoto yang merusak citra sebagai Miss tersebut. Sekarang Nadia adalah duta predikat itu. 

Seorang Kristen juga duta Kristus. Ketika menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita menjadi ciptaan baru. Seperti Nadia, kita harus membiasakan hidup sebagai seorang duta predikat itu, tidak bisa sama dengan yang lain. Ada peringatan keras yang diberikan untuk orang Kristen di suatu daerah dalam 1 Petrus 4 dan 2 Petrus 3, dan juga sangat relevan dengan kondisi orang-orang Kristen saat ini. Di dua kitab tersebut diingatkan bahwa orang Kristen tidak boleh hidup seperti cara orang-orang yang tidak mengenal Allah hidup (1 Petrus 4:2), dan betapa saleh kita harus hidup (2 Petrus 3:11).

Wednesday, May 11, 2022

Kerja Kerja Kerja


Beberapa hari ini saya merenungkan tentang bekerja. Gak, saya tidak anti bekerja. Saya senang bekerja, apalagi pekerjaan fisik. Bekerja membuat saya berkeringat dan sehat. Saya pernah bekerja di sebuah perusahaan di bidang housekeeping and I really loved it. Namun, karena jam kerja yang terlalu panjang sehingga tubuh saya kelelahan, saya tidak punya waktu untuk membaca. Bagian ini yang saya tidak suka dari bekerja secara fisik. Akhirnya, saya berhenti dari pekerjaan itu dan mendapatkan pekerjaan yang lain. Intinya, saya tidak punya masalah dengan bekerja.

Belakangan, saya melihat pekerjaan saya sekarang ini sungguh memberatkan. Saya tidak punya sasaran yang mau dicapai, sesuatu yang ingin dikejar dari pekerjaan saya. Setiap hari, ketika saya harus bangkit dari tempat tidur dan bersiap ke kantor, saya tidak senang. Bukan karena ingin bermalas-malasan lebih lama, tetapi lebih karena membayangkan pekerjaan di kantor yang kurang menantang. Seorang teman mengatakan mungkin karena saya sudah terlalu lama di kantor ini. Saya tidak suka keadaan seperti ini. 

Sunday, January 23, 2022

Minyak Tumpah

    Kehidupan di kos tidak mudah. Well, bener sih kita bisa pilih antara mau bermalas-malasan setelah kerja seharian atau sebaliknya. Kalau mau bermalas-malasan berarti harus cukup bahagia dengan kondisi kamar dan toilet yang berantakan, atau perlu merogoh dompet untuk membayar orang melakukan pekerjaan rumah tersebut. Dan kegiatan bermalas-malasan itu cukup sampai di daerah 'kekuasaan' kita saja, yaitu di kamar. Di luar kamar, kita harus ikut 'aturan main' kos setempat, misalnya, yang paling umum, menjaga kebersihan dapur. Di dapur itulah kisah minyak tumpah ini dimulai.
    Beberapa waktu yang lalu, saya dengan ceroboh menyenggol tumpah pewangi pakaian, dan kemudian minyak goreng bekas. Saya meminta maaf secara umum melalui WAG kos untuk pewangi pakaian yang saya tumpahkan, tetapi untuk minyak goreng, saya diamkan karena minyaknya milik bersama. Susah juga mencari tahu siapa yang memakai minyak bekas itu. Jadi, saya hanya membersihkan saja tumpahannya. Saya mengambil kaleng bersih untuk minyak bekas saya sendiri untuk mencegah minyak tumpah akibat tersenggol tidak sengaja.  
    Di hari yang sama, sore hari, salah satu teman kos menanyakan minyak siapa yang tumpah dan mengotori dapur. Saya tidak merasa melakukannya, jadi saya diam saja. "Pasti binatang yang masuk, atau salah satu teman kos yang sama teledornya dengan saya," begitu pikiran saya, sambil tersenyum. Peristiwa minyak tumpah itu ternyata berlanjut dan masih ditanyakan lagi di grup. Tidak ada jawaban. Keesokan paginya, saya bertemu Bi Diah, asisten rumah tangga yang membersihkan kos. Dengan suara kesal dia bertanya, "Kak, kakak numpahin minyak ya?" agak menuduh pertanyaannya. Tetapi saya tenang menjawab, "Gak kok, malah minyak bekas goreng saya di tempat yang aman!" Lalu dia membelalak, "Lah, Kak, itu kan kalengnya bocor. Pantesan minyaknya kemana-mana. Yang warna emas itu kan?" sambil ditundukkan kepala, melihat dari railing tangga kos ke arah dapur. Saya gelagapan, merasa bersalah dan malu sekali, "Aduh maaf Bi Diah, saya beneran gak tahu, maaf ya. Saya buang deh kalengnya." Saya tidak bisa membersihkan saat itu karena saat berpapasan dengan Bi Diah, saya sudah harus ke kantor. 
    Di perjalanan, saya memikirkan kejadian itu. Bingung sendiri karena kaleng yang saya pakai kelihatannya kondisinya baik. Dan ketika saya pakai pun, minyak tidak segera keluar dari kaleng, jadi keluarnya melalui rembesan, jadi saya benar-benar tidak menyadari. Dalam kebingungan dan rasa malu, Tuhan Allah mengajarkan saya mengenai anugerah. Kok bisa?
    Sesungguhnya, orang percaya itu harus hidup dengan tertib dan damai. Namun, peristiwa-peristiwa dalam hidup, dan keberdosaan kita membuat respons negatif terhadap peristiwa-peristiwa tersebut. Bentuknya macam-macam, seperti amarah meluap-luap, pemberontakan, omongan kasar, kebencian, dan lain-lain. Jika hati kita benar di hadapan Tuhan, pastinya kita akan sangat menyesali perbuatan dosa ini. Banyak yang menjadi mundur dalam mengerjakan panggilan di dalam Tuhan karena merasa tidak layak. Memang benar, kita semua berdosa dan tidak layak di hadapan Tuhan. Tetapi apakah Tuhan ingin kita seperti Yudas Iskariot, yang sangat menyesal karena telah menjual Yesus, kemudian membunuh diri?
    Ataukah, Ia ingin kita seperti Petrus, yang menyangkal Yesus sebanyak tiga kali, lalu menyesal dan menangis tersedu-sedu, menghilang, kemudian ketika bertemu Yesus, Ia menangisi dosanya dan berbalik menyembah Dia? Saya pikir Tuhan ingin kita mengambil langkah seperti Petrus. Datanglah dan mohon ampun pada-Nya. Dia akan memberikan ANUGERAH pengampunan dosa di dalam Pribadi Yesus Kristus yang telah memberikan diri-Nya menjadi korban penebus dosa bagi semua orang. Datanglah, dan terimalah anugerah dari Allah. 
    Saya berterima kasih kepada Bi Diah yang pada saat itu juga mengatakan YA ketika saya minta maaf atas minyak yang tumpah. Bi Diah sudah mengampuni saya untuk kesalahan yang saya lakukan. Saya tidak bisa membersihkan minyak tumpah itu, Bi Diah yang melakukannya untuk saya. Peristiwa ini mengajarkan saya pelajaran yang penting tentang ANUGERAH. 

Saturday, November 5, 2016

Keledai Liar

Coba renungkan kisah anak sulung dari satu keluarga kurang harmonis. Bayangkan kalau kamu yang ada di posisinya.

Aku ini seorang anak laki-laki, lahir dari seorang bapak yang sangat kaya. Setelah dewasa, aku baru tahu bahwa bapakku menikahi ibuku sebagai isteri kedua karena isteri pertamanya mandul, saat itu. Kini, isteri pertama bapakku sudah memiliki seorang anak. 

Sebagai anak pertama, seharusnya aku yang mendapatkan kasih sayang lebih banyak daripada adikku. Setelah adikku lahir, isteri pertamanya melarangku untuk bermain dengannya. Aku lebih sering menjauh dari kemewahan di rumah bapakku. Meskipun status ibuku isteri yang sah, tetap saja Ibu tidak setara haknya dengan isteri pertamanya. Mungkin karena dulunya Ibu seorang budak. 

Wednesday, September 30, 2015

Saudara Perempuan

Ria melirik tumpukan buku harian di sudut meja belajarnya. Ada sesuatu yang perlu dia lihat di situ. Sebuah catatan tentang Ray, kakak perempuannya. Mereka hanya terpaut 1 tahun, namun semakin beranjak dewasa, keduanya sangat berbeda. Ria lebih tertutup dan misterius, sementara Ray, senang berbicara dan hangat. Ria lebih pintar di sekolah, sementara Ray, lebih tekun belajar. Keduanya sama-sama cantik. Meski demikian, Ria terlihat lebih menonjol. Itu kata orang-orang. Ria tidak merasa seperti itu. Ray, di mata Ria, kakak perempuan yang mengagumkan.

Tidak satupun catatan tentang saudara perempuannya di sana. Setelah lebih dari 37 tahun hidup bersama, tidak satupun catatan hidup tentang Ray di situ. Merasa bersalah, Ria berulang kali membolak-balik buku-buku hariannya. Tidak ada. Diambilnya buku hariannya yang terbaru, Ria mulai menulis.

Tuesday, January 6, 2015

Saat Sahabatmu Menikah

Saat sahabatmu menikah, kamu juga turut berbahagia
Akhirnya, setelah semua pergumulan berat menjelang hari bahagia itu,
Sahabatmu berdiri di sana bersama suaminya,
Kamu juga di sana, di antara para tamu, memandangi wajah sahabatmu
Kamu segera tahu, itulah saat terakhir kebersamaan kalian

Sebulan berlalu sejak pernikahan Anas, sahabat Nita. Pernah sekali waktu mereka berjalan bersama setelah pernikahan itu. Nita bercerita seperti biasanya tentang hal-hal sepele di kantor mereka. Anas mendengarkan dan memberi komentar, seperlunya. Nita memalingkan muka melihat wajah Anas. Ada yang hilang di sana. Anas tidak lagi sama. Tiba-tiba saja Nita merasa sendirian. Percakapan masih terus mengalir dari mereka berdua, namun tidak lagi seperti dulu. Sejak saat itu, Nita selalu menghindar ajakan Anas untuk bertemu. Buat apa? Keadaan sudah berbeda sekarang.

Wednesday, November 5, 2014

Ular di Dalam Rumah

Di sana, ada sebuah rumah yang dihuni oleh orang-orang yang selalu sibuk. Seperti pagi biasanya, seluruh anggota keluarga sedang bekerja. Ada yang menyapu rumah, ada yang menyiapkan makanan, ada yang mengatur letak barang-barang, berbeda-beda yang mereka kerjakan. Dapat terlihat jelas dari wajah-wajah mereka, kebahagiaan karena bekerja bersama demi keindahan rumah itu. Terdengar canda, tawa serta lagu-lagu yang keluar dari mulut mereka. 

Rumah itu tidak terlalu besar, tetapi sangat nyaman. Makanan selalu tersedia. Sirkulasi udara cukup karena matahari dan angin dibiarkan masuk melalui jendela-jendela yang dilapisi kawat untuk menghindari binatang-binatang melata ataupun burung-burung masuk ke dalam rumah. Ya, rumah itu berdiri di daerah yang dihuni banyak binatang liar. Hanya ada satu pintu di rumah itu dan selalu terkunci.

Orang-orang yang tinggal di dalamnya berasal dari negeri yang berbeda-beda. Alexander dan Amos, berasal dari negeri Logos, diberikan kepercayaan oleh Boaz, memastikan pintu selalu tertutup. Boaz sendiri berasal dari negeri Poimen, negeri para penjaga rumah. Orang-orang dari negeri Poimen pergi ke ujung-ujung bumi untuk menjagai rumah Sang Pemilik. Deborah, Eli, Caleb, berasal dari negeri Profetes, negeri para pendengar. Sang Pemilik akan berbicara kepada mereka semua tetapi orang-orang dari Profetes-lah yang paling peka. Itu hanya terjadi jika mereka menutup telinga mereka dari suara Musuh. Julia, Lea, Luke, mereka berasal dari negeri Labora. Mereka sangat kreatif. Hasil pekerjaan tangan merekalah yang membuat rumah itu hidup.

Tuesday, February 25, 2014

Guci itu Pernah Pecah

Dea baru saja akan keluar untuk menemui teman-temannya di sebuah mal ketika matanya tertumpu pada pecahan keramik yang berserakan di lantai ruang tamunya. Langkahnya terhenti, pikirannya bercabang. Terus melanjutkan perjalanannya atau membersihkan pecahan itu. Dia khawatir, jika tidak segera dibersihkan, pecahan itu akan melukai kaki dari salah satu anggota keluarganya. Buru-buru diambilnya sapu dan pengki, kemudian mendekati pecahan itu.

Gerakan  tangannya terhenti karena matanya mengenali satu tanda khusus di badan salah satu pecahan itu. “Itu guci kesayangan Papa.” Jantung Dea serasa berhenti berdegup beberapa waktu. Dia tahu ini bukan kesalahannya, ada orang lain atau sesuatu yang menyambar guci itu, dan membiarkannya berserakan begitu saja.

Monday, December 2, 2013

Surat untuk Para Senior

Selamat pagi, para senior yang tersayang...

Aku datang ke tempat ini dengan tujuan yang sama dengan kalian. Aku menempuh perjalanan dengan lalu lintas yang hari demi hari semakin semrawut saja, rasanya. Aku memperbaiki dandananku setiba di tempat ini untuk menciptakan kesan profesional. Aku sangat bersemangat mendapatkan kesempatan bekerja di tempat ini. Aku berharap dapat menerapkan ilmu yang sudah aku pelajari selama lebih dari dua tahun. Aku membawa idealisme-idealisme yang sudah aku percayai dapat membawa perubahan yang baik di tempat ini.

Thursday, August 29, 2013

Tak Pernah Padam : bagian 3

Mama Cindy memang paling tahu bagaimana memaksakan kehendak pada anak-anaknya. Senakal apapun mereka, mama seperti punya cara untuk membuat mereka menyesal dan akhirnya mengikuti kehendaknya. Dan setiap kali pada akhirnya mereka menurut, mama akan memeluk dan menciumi mereka. Dan jurus maut mama ini seperti masih manjur pada Cindy. Mungkin itu yang membuat Cindy meninggalkan altar lima tahun yang lalu tanpa memberikan penjelasan apapun. Akhirnya, Cindy dan mamanya hadir juga di acara makan malam terakhir Rio di Jakarta, setidaknya untuk beberapa tahun lamanya. 

Wednesday, August 28, 2013

Tak Pernah Padam : bagian 2

Ragu-ragu, Cindy melangkah masuk ke gereja yang sudah lama ia tinggalkan. Cindy sudah berusaha meyakinkan mamanya agar menunggu di luar saja sampai kebaktian selesai. Tetapi mama Cindy lebih keras lagi memaksanya untuk masuk ke dalam. Tempat ini semakin cantik saja. Disapukannya pandangan ke semua arah dan ia tersenyum. Ada suatu aliran perasaan hangat yang singgah di hati Cindy. Mungkinkah Tuhan menyambut kehadiran gue? Cindy mempercepat langkahnya saat ia melihat mamanya sudah jauh di depan, kuatir ia akan kebingungan mencari mamanya yang mungil di antara bangku jemaat.

Tuesday, August 27, 2013

Tak Pernah Padam: bagian 1



Semua kepala tertuju padanya. Cindy cantik sekali dalam balutan baju pengantin berwarna putih. Tidak seorang pun akan menyangka bahwa sesungguhnya batin Cindy bergetar hebat hingga lutut dan tangannya ikut bergetar. Dari balik cadar, ia memandang Rio, yang beberapa menit ke depan akan resmi menjadi suaminya. Dia tampan sekali. Cindy tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Mengapa saat yang penting ini, ia harus merasa cemas berlebihan? Seolah-oleh pernikahan ini sebuah kesalahan. Dan pastinya, bukan kesalahan Rio.

Tuesday, March 12, 2013

Rivkah dan 3 Bola Asap bagian 2

Sesampai di pasar, Rivkah bergerak di antara orang-orang yang melakukan transaksi jual beli. Hari itu pasar dikerumuni lebih banyak orang dan dagangan karena sebentar lagi Perayaan Besar tiba. Gesekan, emosi, kompetisi di antara orang-orang ini menciptakan asap-asap pekat di sekitar sehingga menyulitkan Rivkah untuk menemukan 3 bola asapnya. Semua terlihat buram, berasap, jalan hampir-hampir tidak kelihatan. Ini karena Rivkah meminta kemampuan melihat roh dan diberikan oleh Yang Mahatinggi dengan tujuan pencarian itu. Rivkah memicingkan mata, berusaha melihat lebih jelas di antara asap pekat.

Tuesday, March 5, 2013

Rivkah dan 3 Bola Asap bagian 1

Rivkah buru-buru masuk melalui pintu itu. Gedung kuno namun tidak sepi pengunjung itu sudah menjadi rumah kedua baginya selama 3 tahun belakangan ini. Biasanya hanya kaum Adam saja yang diperbolehkan masuk ke dalam gedung itu, tetapi pengecualian buat Rivkah. Tiga tahun yang lalu, ayah Rivkah, seorang imam besar di sinagoge itu meninggal dunia dan hanya meninggalkan seorang puteri sebagai keturunannya. Kala itu Rivkah masih berusia 18 tahun. Sebagai satu-satunya keturunan ayahnya, Rivkah bersedia meninggalkan masa remajanya untuk mengabdi di rumah Tuhan, menggantikan posisi ayahnya.

Sunday, February 24, 2013

Nama Gue, Danang

"Dinda, loh...lo Dinda, kan?" jerit tertahan keluar dari mulut seorang pria berpakaian feminin. Di balik polesan wajahnya yang tebal, pria itu menatap Danang lamat-lamat. Danang yang diperhatikan sedemikian rupa oleh pria itu tertunduk malu. Pria itu segera berlalu sambil mengetuk-ngetukkan telunjuknya ke kepalanya, berpikir keras. Setelah mendapatkan saweran dari tamu di seberang, si pria bergegas menghampiri tempat duduk Danang lagi.

Tuesday, February 19, 2013

Everything about (you) Books


Pintu itu berderit, Sasa langsung menoleh. Di sana berdiri Ryan dengan wajah tersenyum. Sasa mengembangkan senyum keheranan melihat Ryan berdiri di sana. 
"Sasa..."

"Ryan...kamu kok tau aku di sini? Hmm, aku tau pasti dari Maya, ya?" tanya Sasa sambil berjalan mendekati Ryan.
Ryan menaikkan kedua bahunya dan tersenyum lebih lebar, kedua matanya tidak berhenti menatap Sasa sehingga ia jadi salah tingkah. 

Monday, March 5, 2012

Hati Baru


Tia kecil tak henti-hentinya meraung-raung, tangan kecilnya berusaha menggapai tubuh ibunya yg sudah tidak terlihat lagi. Keringat membasahi tubuhnya, ketakutan merajai hatinya kini. Liar matanya mencari-cari sosok pemberi kenyamanan dalam hidupnya itu, tetapi sia-sia saja. Sepasang tangan kekar menahan tubuh kecilnya.

Menganggap Sepi

Semalam, saya marah sekali pada keponakan-keponakan saya, terutama keponakan pertama. Pasalnya, saya melihat dia sedang bermain gim daring ,...