Friday, August 14, 2026

Hidup di Jalan

"Hebat lu, kuat pulang-pergi sejauh itu"

"Jauh banget rumahnya, gak mau cari yang deket aja?"

Ah, macam-macamlah yang dikatakan teman-teman sekerja saya setelah tahu saya menempuh jarak sejauh itu tiap hari, dan fun fact-nya, tidak terlambat ke kantor. Yey!

Tapi bukan itu yang mau saya ceritakan. Bukan tidak lelah atau bosan jika saya ikutan merenungkan kata-kata mereka, tetapi saya baru menyadari satu hal. Bagi saya, mengendarai motor di jalan mulus seperti BSD City itu sungguh menyenangkan. Bahkan, jadi semacam healing atau meditasi singkat. 

Sore ini, saat saya mendapatkan insight itu. Saat motor saya melaju bersama motor lainnya, dan kendaraan lainnya, saya melihat situasi ini mirip dengan kehidupan. Diawali dengan mengejar waktu karena jadwal kereta, saya berusaha mencari-cari sisi kosong di tengah-tengah kemacetan di beberapa titik jalur yang sering saya lewati. Di saat ini, saya perlu berkonsentrasi melihat keadaan jalan di depan dan di belakang, lewat kaca spion. Jika dirasa aman, saya memberanikan diri mengambil sisi yang sudah ditargetkan. Ini terjadi berulang-ulang, berkonsentrasi dan mengambil keputusan, sehingga saya perlu 'membebaskan diri' dari hal-hal kurang penting, Biasanya saya mengamankan barang-barang berharga di bagasi motor, lalu yang kurang berharga dicantelkan saja. Lalu, saya perlu bercelana panjang, berjaket dilapisi penahan angin, memakai helm bersih transparan, jika terik, ada kaca gelap, bersarung tangan, bermasker, dan bersepatu. Tidak saya izinkan diri memakai sandal karena kecelakaan beberapa kali menyadarkan saya bahwa bagian kaki, terutama jari-jari sangat rentan terluka parah jika jatuh. It's a big NO buat saya berkendaraan sambil mendengarkan musik atau suara lainnya dari headset

Thursday, August 6, 2026

Kehadiranmu

Hari ini kami membahas tema mengenai penolong. Dan, masing-masing kami menceritakan pengalaman ditolong. Saya berusaha mencari-cari pengalaman profesional yang membekas di hati. Ada banyak tetapi satu yang ingin saya ceritakan karena unik. Di suatu masa, saat muda, saya melakukan hal yang spontan, tidak dipikir masak-masak, tetapi di akhir mengakibatkan penyesalan. Saya dibawa ke ruang dekan untuk mempertanggungjawabkan perbuatan saya dan mendapatkan hukuman. 

Dalam kesendirian, saya mengingat kembali perbuatan saya dan hal yang seharusnya saya lakukan, yang sebenarnya lebih baik untuk dilakukan. Saya merasa kecewa, sedih, marah di saat bersamaan pada diri sendiri. Ternyata keadaan seperti itu dalam kurun waktu lama dapat menyebabkan beban nyata di tubuh. Saya katakan kepada diri sendiri bahwa nasi sudah jadi bubur, dan terima nasib saja. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Seseorang masuk melaluinya. Seseorang yang saya kenal. Kami bertatapan, bingung. Lalu, kami berdua tertawa terbahak-bahak. 

Hidup di Jalan

"Hebat lu, kuat pulang-pergi sejauh itu" "Jauh banget rumahnya, gak mau cari yang deket aja?" Ah, macam-macamlah yang di...