Saturday, June 29, 2019

Ketekunan

Kalau kamu pernah ke perpustakaan atau memang bekerja di situ seperti saya, kamu pasti bisa membayangkan jenis orang yang paling sering berkunjung ke sana. Saya mau cerita tentang salah satu pengunjung berkacamata yang selalu membawa laptopnya kemana-mana. Di sekolah saya, dia itu salah satu tim pengembangan kurikulum sekolah. Kalau sedang tidak 'dikuasai' oleh pemikiran sendiri, dia akan menyapa saya kalau masuk ke perpustakaan. Sebaliknya, dia 'melengos' saja dengan laptop di tangannya, kadang dengan kuping yang 'disumpel' headset. Yang lebih ajaib lagi, dia suka berbicara sendiri. Dia tahu loh saya suka kaget kalau tiba-tiba dia berbicara pada seseorang padahal hanya kami berdua di dalam. Ah, ada-ada saja memang. Sebelum dia mengingatkan saya untuk tidak terkejut dengan perilaku 'ajaib'nya ini, saya sudah jauh lebih dulu memakluminya. Sesekali, dia suka berbincang-bincang bahkan melucu, yang sama sekali gak lucu, jadi saya harus memaksa bibir dan mulut tertawa. Melucu bukan talentanya, jadi harus dihargai jika dia sudah berusaha :D

Monday, June 24, 2019

Hari Kelulusan

Horeee, akhirnya kami resmi memakai toga dengan tali di topi yang sudah dipindah ke kanan. Ternyata ya ada artinya tuh kenapa tali itu harus dipindahkan. Jadi, selama kuliah, kami menggunakan otak kiri untuk mengerjakan tugas dan ujian, setelah lulus, kami diharapkan menggunakan otak kanan untuk mendorong kreatifitas dan kemampuan soft skills lainnya untuk mengatasi persoalan-persoalan sosial yang ada di sekitar kami. Bagus juga. Catet ya :D

Mama saya orangnya suka merayakan. Berbeda dengan saya yang menganggap segala capaian itu B aja, alias biasa aja. Memang ketika menjalani proses kelulusan itu, saya merasa dunia saya 'diobrak-abrik' dan selalu mengejar waktu. Saya lelah dan ingin segera selesai. Saya juga dikejar deadline kelulusan karena menggunakan fasilitas beasiswa. Mengingat kembali peristiwa itu, saya sangat bersyukur atas IPK yang lebih dari 3.5, lumayan bagi saya. Disuruh mengulang? Ogah. Temen dan dosen ada yang menyarankan untuk saya mengambil S3 tapi ntar dulu, saya baru saja menikmati kebebasan sebagai individu.

Sunday, March 31, 2019

I'm Not Angry, But...

I'm not angry with you, but...
There are things intolerable
You don't love My Father
it means you'll hate me
You'll hear a lot about my praising Father
You'll think I just am being a fussy
Telling you to do things you don't like
It's just me, the new me
You know me in the previous years, times I've left
I, myself, feel grateful that I get to know you
And I feel regretful to embrace the fact
That you don't love My Father
That you don't honor Him
That you think He's just the One sitting on His Throne
You don't know Him
And I can't fix your heart wounded by things I don't know yet
Well, I don't want to know either
The thing, the vital one I can do for you is praying
That My Gracious Father would be merciful
To give you the new heart
Like what He did to mine
You'll understand the things I'm saying now
But 'til then
I must separate myself from you
I'm not angry with you, it's just...
There are things intolerable
Deep down, I heart you, I feel you
Hopefully things will go well, with you and I

Wednesday, February 6, 2019

Sidang Tesis

Hari sidang tesis saya sudah semakin dekat. Dosen pembimbing menyarankan agar kami mempersiapkan hari itu dengan sebaik-baiknya. Selain format presentasi yang harus dibuat menarik dan informatif, kami juga harus tahu dan sadar akan setiap kata yang sudah kami tuliskan di dalam tesis. Oleh sebab itu, dosen pembimbing meminta kami untuk membaca lagi bab demi bab dengan seksama. Dengan seksama. Artinya, kami tahu di bagian mana kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja sudah dibuat, ataupun data-data penting yang seharusnya dimasukkan, namun terlewatkan. Jika penguji meminta pertanggungjawaban, kami dapat membuktikan dengan menyertakan data penting tersebut di slide lain, atau meminta maaf atas kekeliruan yang sudah terjadi, serta berjanji akan merevisi. 

Tuesday, November 27, 2018

Berjalan dalam Hujan

Kalau lagi ada pikiran berat yang cenderung banget, saya kurang bisa menceritakannya dengan orang lain. Semua hal bisa saya ceritakan sebenarnya, tetapi saya tidak akan berharap penyelesaian secara batin jika dibicarakan dengan orang lain. Saya tidak tahu kapan kebiasaan ini dimulai. Saya akan berjalan kaki dalam jarak yang jauh sambil berbicara kepada Tuhan dan diri sendiri. Ketika saya belum mendapat kabar Papa meninggal dunia, jiwa saya sudah merasa sedih, galau duluan. Saya berjalan keliling mal di Bandung, tanpa tujuan, dan membeli sepasang anting. Di dalam hati, saya mengatakan sepasang anting ini akan saya pakai pada penguburan Papa. Entah bagaimana saya mendapatkan perasaan itu, dan memang setiba di wartel, saya mendapat kabar Papa meninggal dunia. Sekarang, saya tidak tahu keberadaan sepasang anting itu.

Semalam, saya mengulangi 'ritual' berjalan jauh. Kali ini karena saya sangat sedih dengan keadaan seorang teman baik yang tidak bisa dibantu karena dirinya menolak dibantu padahal sudah diusahakan sebelumnya. Saya juga sedih dengan teman lain yang memiliki masalah dengan universitas sehingga tidak dapat meneruskan hingga sidang, untuk saat ini. Saya tahu perjuangan teman yang mengerjakan tesis ini, saya menyesalkan keadaan yang menimpa dia. Saya menyesalkan kedua teman saya ini, dan berpikir-pikir apa yang salah.

Sunday, November 25, 2018

Ester (Hadasa)

Ester menjadi sosok penting dalam perpolitikan Persia ketika dirinya masih menjadi kandidat sebagai ratu menggantikan posisi Ratu Wasti. Kala itu, Ester sudah 30 hari tidak dipanggil oleh Raja Ahasyweros. Menurut undang-undang yang berlaku, hukuman mati akan dijatuhkan kepada wanita atau pria yang mendatangi raja tanpa diminta.

Sebelum itu, Haman, seorang keturunan Raja Agag, menjadi kesayangan Raja Ahasyweros sampai-sampai Raja memberikan kekuasaan yang besar, juga mengharuskan rakyatnya menyembah Haman. Mordekhai, seorang Yahudi, tidak pernah mau melakukan penyembahan itu karena ia memiliki hukum yang berbeda dalam hidupnya. Mordekhai tentunya seorang warganegara yang baik, namun untuk urusan 'menyembah selain Tuhan' tidak bisa dilakukannya. Haman mengetahui hal ini dan sangat sakit hati. Begitu sakit hatinya hingga ia menganggap hina jika hanya membunuh Mordekhai. Ia bermaksud memunahkan seluruh bangsa Yahudi (memunahkan = membuat jadi punah). Ia berencana melakukannya dalam 1 hari, di semua daerah di Persia. Berita itu segera dikabarkan ke seluruh wilayah di Persia. Sudah dipastikan, seluruh orang Yahudi di Persia terkejut dan berduka, demikian juga dengan Mordekhai.

Thursday, September 20, 2018

Tesis

Benar sekali, saya mau curhat mengenai sepak terjang mengerjakan tesis. Kurang dari sebulan, saya meneruskan konsep tesis dari semester lalu. Untuk pengumpulan tesis komplit, kami hanya diberikan waktu kurang lebih 3 bulan. Saya senang mengerjakannya, tetapi selalu merasa kurang waktu. Saya bersyukur mendapatkan dosen pembimbing yang pintar konsep dan mampu menuangkan dalam tulisan dalam bahasa yang baik dan benar. Saya merasa beruntung, juga grogi karena tiap minggu tulisan saya akan dievaluasi oleh dosen ini. 

Sepanjang mengerjakan tesis, saya menemukan beberapa pencerahan, seperti:
1. Pemilihan kalimat dan ide pikiran dalam kalimat itu harus dapat dipertanggungjawabkan. Jadi, gak bener tuh kalau ada yang bilang bisa hanya dengan modal "ngecap". 
2. Alur pikiran jadi terkonsentrasi karena harus pilah-pilah sumber berdasarkan kata kunci. Itu pun masih harus dipertimbangkan apakah memang sejalan dengan topik ataukah hanya mengikuti perasaan kita yang bilang 'ini penting'. Dosen lain mengajarkan saya harus "tega" menghapus atau menaruh file-file yang tidak relevan, meskipun untuk mendapatkan file-file itu diperlukan usaha tertentu. 
3. Menulis tesis tidak bisa pakai pertimbangan perasaan, harus ada justifikasi mengapa suatu bahan diambil untuk ditambahkan ke daftar referensi.

Tuesday, August 28, 2018

Empati

Ceritanya dimulai ketika si Pakde mengumumkan pendampingnya. Para pendukung Engkoh kecewa, saya salah satunya. Tapi saya lihat teman-teman udah pada bisa move on, sementara saya tidak. Gak berapa lama, muncul lagi kasus serupa dan Pakde tidak melakukan apa-apa, menurut saya. Meskipun semua teman-teman saya tetap berasumsi baik terhadap Pakde, gue berasumsi inilah buktinya kalau memang saya harus berpindah kubu. Tidak baik untuk tidak memilih. Baiklah, saya akan pilih selain Pakde. Semua teman-teman saya kaget karena menganggap saya melakukan tindakan konyol.  Tiap kali ada orang yang meledek pilihan saya karena tidak lagi memilih Pakde karena kecewa, saya selalu bilang punya alasan yang logis. Saya akan menjelaskan panjang lebar sampai akhirnya mereka 'menerima' pendapat gue.

Ketidakadilan. Masalah itu yang ada di pikiran saya. Ketika seorang yang tidak bersalah, dihujat, bahkan dihukum, sementara orang yang benar-benar salah dibiarkan pergi melenggang, itu bikin gue sakit hati. Menurut saya, Pakde gagal menegakkan keadilan, meskipun sangat besar jasanya dalam pemerataan kesejahteraan. Melakukan kebenaran dan keadilan lebih dikenan Tuhan daripada korban (Amsal 21:3). Pemimpin yang berani melakukan keadilan akan dijunjung dan diberkati. Dan, semua orang normal pasti menyukai keadilan. Buktinya, hampir semua orang setuju ketika pemberian penghargaan Nobel Perdamaian dibatalkan untuk Aung San Suu Kyi karena terbukti 'membiarkan' kejahatan terhadap manusia di Myanmar. 

Monday, July 23, 2018

Ketua Kelas

Keponakan saya yang nomor dua sangat antusias masuk sekolah TK. Dan lebih bangga lagi, ketika dia terpilih sebagai ketua kelas. Bahkan ketika papanya menegur agar menuliskan angka satu dimulai dari atas, dia menolak karena sekarang dia ketua kelas, tahu yang benar untuk dilakukan. Teguran papanya dianggap angin lalu saja, meskipun dengan cara bercanda.

Ketika saya pulang kerja, mendapatkan informasi itu dari keluarga di rumah, saya memberikan selamat kepada keponakan saya ini. Iseng-iseng saya tanya, "Kamu tahu gak kenapa kamu terpilih menjadi ketua kelas?" Jawabannya, "Karena saya pintar!" Saya tersenyum geli mendengarnya karena baru hari pertama masuk sekolah tidak mungkin langsung terlihat prestasi belajarnya.

Sunday, July 22, 2018

Setengah Benar

Teman saya meminjamkan film yang sedang dibawanya ke ruang makan kantor. Saya tertarik menonton film itu karena film nasional (saya ini nasionalis loh! :p) dan lucu. Awalannya saja sudah lucu, apalagi selanjutnya, saya pikir demikian. Ini kisah tentang seorang ayah beretnis Tionghoa yang menginginkan anak bungsunya melanjutkan toko keluarga karena anak sulungnya tidak bisa dipercaya. Masalahnya, anak bungsu sudah memiliki karir yang mapan di kantor dan akan segera dipromosikan sebagai Direktur Asia. Sementara itu, anak sulung kurang sukses, atau boleh dibilang, terus saja merintis usaha fotografi secara serabutan, karena belum memiliki studio foto. Ditambah lagi, anak sulung menikah dengan perempuan yang tidak mendapat restu dari ayahnya.

Secara keseluruhan, jalan ceritanya bagus, meskipun lelucon yang dilontarkan menjurus ke pornografi. Yang bikin saya tidak bisa menarik bibir tersenyum adalah ketika adegan anak sulung bersama teman-temannya akan mulai berjudi, mereka protes dengan pemilik rumah karena memajang foto gambar tangan berdoa dengan tulisan "upah dosa ialah maut". Pemilik rumah mengajak teman-temannya untuk berdoa memohon ampun untuk kegiatan yang akan mereka lakukan :( Adegan kedua yang bikin saya mengerutkan dahi adalah pada saat keduanya menjebak bos properti di kamar hotel. Sang kakak menertawakan adiknya yang selama berpacaran, tidak melakukan apa-apa. Duh, bahaya ini kalau ditonton kaum single.

Sunday, June 24, 2018

Pelupa

Pujilah Tuhan, hai jiwaku, pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku. Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya. (Mazmur 103:1)


Mengapa seorang Kristen wajib membaca dan merenungkan Firman Tuhan setiap hari? Saya pikir jawabannya adalah untuk melawan lupa: lupa akan kebaikan, teguran, ajaran Tuhan, dan nubuat mengenai kedatangan-Nya. 

Ketika membuka kitab Yoel 2 dalam saat teduh, saya mengingat kembali tentang nubuat hari Tuhan yang digambarkan dahsyat dan mengerikan bagi musuh-musuh Tuhan. Saya mencoba menggambarkan kata-kata deskriptif dari ayat-ayat tersebut dan sungguh, jika saya tidak percaya Tuhan Yesus, nubuat mengenai kedatangan-Nya mirip seperti kisah dongeng karena tidak pernah terjadi di dunia nyata, dari sejak manusia ada sampai saat saya mengetik posting kali ini. Saya diingatkan kembali mengenai iman: percaya meskipun tidak melihat. Percaya kepada pribadi yang menyatakan nubuat itu melalui nabi Yoel, Dia tidak pernah berdusta. 

Dijauhkan dari Kecurangan

Setiap pagi, di hari kerja, saya melajukan kendaraan di jalan menembus pagi yang mulai merekah. Biasanya, lalu lintas tidak ramai, seperti m...