Thursday, February 17, 2022

When None Was There

On February 14th, 2022, I made an appointment with Pak Wi, but he couldn't make it since he was isolated due to Covid-19, he was just suspected because he drove in someone who was infected. So, I was alone, none would be on my side to help me out when I got troubled in driving my car to kost. I panicky contacted all who I thought must have someone they could count on when facing the same problem. But none could help me. I have a friend who has a son, I thought I could ask her help, but I didn't do it. All my collegues went home one by one, and the last one was the one whose office in the front desk, where I tried so hard to find help

I couldn't find anyone. It was 5 p.m.

Before going home, my friend said, "Bye, Ms., too bad that you are alone now," with a smirking face. I felt ashamed 'cos in my mind, I felt like everyone mocked at me. 

Remembering the effort I took to get the car, it wasn't there instantly. I had to ask Pak Wi to come to Jakarta, to get the car. We went there by bus, then by online taxi. It was almost dark when we arrived at my home. At first, I was about to go with him back Karawaci and parked the car in my office, but then my brother asked Pak Wi to take it by himself. Pak Wi was agreed. 

For 2 days, I didn't dare to drive the car. My friend offered herself to accompany me to drive. I agreed and when we got to the parking lot, and my friend saw I had difficulty in moving the car forward. She decided to leave. I just grinned and continued with the driving. I was successfully driving the car going around the building area. 

The next day,  I drove it with Pak Wi accompanying me. My heart pounded. When we were near the gas station, Pak Wi took control of the steer. We continued with the plan for that day. The next morning was the time when I drove alone, Pak Wi followed my car by riding his bike. 

And now, Pak Wi wasn't available, and I had to go home.

I prayed hard but then, there was none. I realized something, it was like an encouragement. It was the Holy Spirit. If God doesn't send me anyone to help, it means He will be there to help me. That thought was so strong, and my feet followed. 

I remembered praying all the way to kost. My car engine stopped twice or thrice, but there was a comfort in my heart, I wasn't panicky. I was so fully concentrated to drive that I was so stressful and felt nausea, Thank God I made it. I told everyone about this and they were happy with me. 

Yes, when God doesn't send anyone for giving a help, He wants to do it himself. 

Thursday, February 10, 2022

Letting Go Off the Fear Day #1

I have no choice, I got to master driving my car. There's a constant struggle in myself, it appears in my dream at nights. But, I have no choice. I have to fight the fear. I have to let it go off, away from my life. I remind myself that it's good that at least, I try. Of course, I pray. I ask God to help me.

This morning, I asked Pak Wi to accompany me to drive to my workplace. It turned out that he rode his motorbike, therefore, he can't be in the car with me, sit beside me. I did make the car out of my tiny garage. I thought I wouldn't make it. But I did. Thank God. So there I was, alone in the car, thinking all by myself. 

First obstacle, there was grocery man on his bike, opposite of me. I waved my hand to tell him to go first. He understood, thank God. And on my right a head, there's a small river. My heard pounded, I didn't want to fall into it. So, I turned the steer wheel to the left. Thank God, there was no crowds. 

The second obstacle was the steep. It wasn't that bad, actually but I kept making the same mistakes. Thank God, I had Pak Wi on his bike to help me. 

The third obstacle, there was a car slipped through my way, made the left turn. I was shocked but since my speed was low, I managed to push the break knob. My friend, who was already in the office, said that thing happened all the time, so we need to be alert at all time.

The last obstacle was parking, and I bumped my car. At least, I made it to drive to office. Now, I feel exhausted. 

Driving a car takes great responsibility, you can hurt yourself or others, so stay away from disruptions, And she welcomes me to the club :D

 

Sunday, January 23, 2022

Minyak Tumpah

    Kehidupan di kos tidak mudah. Well, bener sih kita bisa pilih antara mau bermalas-malasan setelah kerja seharian atau sebaliknya. Kalau mau bermalas-malasan berarti harus cukup bahagia dengan kondisi kamar dan toilet yang berantakan, atau perlu merogoh dompet untuk membayar orang melakukan pekerjaan rumah tersebut. Dan kegiatan bermalas-malasan itu cukup sampai di daerah 'kekuasaan' kita saja, yaitu di kamar. Di luar kamar, kita harus ikut 'aturan main' kos setempat, misalnya, yang paling umum, menjaga kebersihan dapur. Di dapur itulah kisah minyak tumpah ini dimulai.
    Beberapa waktu yang lalu, saya dengan ceroboh menyenggol tumpah pewangi pakaian, dan kemudian minyak goreng bekas. Saya meminta maaf secara umum melalui WAG kos untuk pewangi pakaian yang saya tumpahkan, tetapi untuk minyak goreng, saya diamkan karena minyaknya milik bersama. Susah juga mencari tahu siapa yang memakai minyak bekas itu. Jadi, saya hanya membersihkan saja tumpahannya. Saya mengambil kaleng bersih untuk minyak bekas saya sendiri untuk mencegah minyak tumpah akibat tersenggol tidak sengaja.  
    Di hari yang sama, sore hari, salah satu teman kos menanyakan minyak siapa yang tumpah dan mengotori dapur. Saya tidak merasa melakukannya, jadi saya diam saja. "Pasti binatang yang masuk, atau salah satu teman kos yang sama teledornya dengan saya," begitu pikiran saya, sambil tersenyum. Peristiwa minyak tumpah itu ternyata berlanjut dan masih ditanyakan lagi di grup. Tidak ada jawaban. Keesokan paginya, saya bertemu Bi Diah, asisten rumah tangga yang membersihkan kos. Dengan suara kesal dia bertanya, "Kak, kakak numpahin minyak ya?" agak menuduh pertanyaannya. Tetapi saya tenang menjawab, "Gak kok, malah minyak bekas goreng saya di tempat yang aman!" Lalu dia membelalak, "Lah, Kak, itu kan kalengnya bocor. Pantesan minyaknya kemana-mana. Yang warna emas itu kan?" sambil ditundukkan kepala, melihat dari railing tangga kos ke arah dapur. Saya gelagapan, merasa bersalah dan malu sekali, "Aduh maaf Bi Diah, saya beneran gak tahu, maaf ya. Saya buang deh kalengnya." Saya tidak bisa membersihkan saat itu karena saat berpapasan dengan Bi Diah, saya sudah harus ke kantor. 
    Di perjalanan, saya memikirkan kejadian itu. Bingung sendiri karena kaleng yang saya pakai kelihatannya kondisinya baik. Dan ketika saya pakai pun, minyak tidak segera keluar dari kaleng, jadi keluarnya melalui rembesan, jadi saya benar-benar tidak menyadari. Dalam kebingungan dan rasa malu, Tuhan Allah mengajarkan saya mengenai anugerah. Kok bisa?
    Sesungguhnya, orang percaya itu harus hidup dengan tertib dan damai. Namun, peristiwa-peristiwa dalam hidup, dan keberdosaan kita membuat respons negatif terhadap peristiwa-peristiwa tersebut. Bentuknya macam-macam, seperti amarah meluap-luap, pemberontakan, omongan kasar, kebencian, dan lain-lain. Jika hati kita benar di hadapan Tuhan, pastinya kita akan sangat menyesali perbuatan dosa ini. Banyak yang menjadi mundur dalam mengerjakan panggilan di dalam Tuhan karena merasa tidak layak. Memang benar, kita semua berdosa dan tidak layak di hadapan Tuhan. Tetapi apakah Tuhan ingin kita seperti Yudas Iskariot, yang sangat menyesal karena telah menjual Yesus, kemudian membunuh diri?
    Ataukah, Ia ingin kita seperti Petrus, yang menyangkal Yesus sebanyak tiga kali, lalu menyesal dan menangis tersedu-sedu, menghilang, kemudian ketika bertemu Yesus, Ia menangisi dosanya dan berbalik menyembah Dia? Saya pikir Tuhan ingin kita mengambil langkah seperti Petrus. Datanglah dan mohon ampun pada-Nya. Dia akan memberikan ANUGERAH pengampunan dosa di dalam Pribadi Yesus Kristus yang telah memberikan diri-Nya menjadi korban penebus dosa bagi semua orang. Datanglah, dan terimalah anugerah dari Allah. 
    Saya berterima kasih kepada Bi Diah yang pada saat itu juga mengatakan YA ketika saya minta maaf atas minyak yang tumpah. Bi Diah sudah mengampuni saya untuk kesalahan yang saya lakukan. Saya tidak bisa membersihkan minyak tumpah itu, Bi Diah yang melakukannya untuk saya. Peristiwa ini mengajarkan saya pelajaran yang penting tentang ANUGERAH. 

Saturday, January 15, 2022

Peranan Roh Kudus dalam Penciptaan dan Pernyataan

Tanpa pertolongan dari Roh-Nya, kita tidak dapat memahami Tuhan. Jika Roh Allah tidak ada dalam diri seseorang, maka ia tidak mugkin dapat memahami Allah. Sama seperti kita tidak bisa memahami suatu bangunan tanpa kita mengenal ahli bangunan itu. Kejadian 1:2, Roh Allah melayang-layang tetapi sesungguhnya Ia memiliki tahta. Ibrani 3:3-4 seorang ahli bangunan lebih dihargai daripada ciptaannya. Seorang ahli bangunan dihormati karena hasil ciptaannya. Keluaran 31:3-4 betapa besar hikmat dan kuasa yang dimiliki Roh Allah. Yesaya 14 menceritakan dengan suatu tahta yang menjadi tempat Yang Mahatinggi yang kita kenal dengan Allah. Yohanes 14:26 Allah itu adalah Roh. Roh Allah yang melayang-layang di atas permukaan air, berarti air ini sudah ada. Air laut taat. Ayub 38:8-11 Roh Allah yang mengatur laut yang congkak ini. Ayub 38:25-27, tanah pun taat atas perintah Allah untuk menumbuhkan tunas-tunas. Hujan pun tetap turun pada masanya. Ayub 37,38,39 itu hanyalah sedikit bagian mengenai kedahsyatan yang dilakukan oleh Allah yang adalah Roh. Mengenal Allah dari atribut Allah. Mazmur 139, 1 Korintus 2:10-11 Allah Mahatahu. Matius 19:26, Zakaria 4:6 Mahakuasa, Yesaya 44:6-8 Allah itu Mahaada.  Ayub 27:2-3 tubuh kita hidup tergantung pada ada atau tidaknya Roh Allah. Kejadian 1:24 bumi setia untuk mengeluarkan segala jenis mahkluk hidup, binatang melata dan segala jenis binantang liar. Mazmur 24, 17:24, 76:28, 104 kebesaran Tuhan di dalam segala ciptaan-Nya. Semua yang dikatakan oleh Daud, Ayub, di kitab Kejadian, semua tercipta ketika Allah mengirimkan Roh-Nya. Jadi jelas bahwa Allah terlibat dalam penciptaan. Semua mujizat hanya untuk menceritakan betapa besarnya Allah itu. Dan kita tidak akan sanggup mengerti, mengenal, memiliki pengertian dan pengetahuan akan hukum dan aturan-Nya, dan tidak mampu mengakui Allah. Kita tidak perlu takut akan hal apa pun karena Roh Allah itu. Roh Allah yang mengatur kehidupan agar bisa berkenan bagi Dia. 

Thursday, September 9, 2021

Situs Jodoh

Pagi ini saya memimpin devosi guru dan staf di sekolah saya, diinspirasi dari buku Rahmat-Nya Baru Setiap Pagi, karangan Paul David Tripp. Pertama kali baca bahan devosinya, saya merasa heran dengan pertanyaan yang diberikan, "Mungkin, hari ini engkau menginginkan Yesus sebagai situs jodoh yang akan memberimu pasangan. Dia akan menjadi Pribadi yang kau butuhkan, yaitu Raja dan Juruselamat yang berdaulat." Situs jodoh? Oh maksudnya, mempertemukan kita dengan orang-orang yang baik yang bisa memenuhi kebutuhan kita akan kasih, perhatian, dan mungkin kebutuhan fisik seperti uang. Padahal, hanya Tuhan yang bisa memenuhi segala kebutuhan saya dalam relasi dengan sesama. Saya juga pernah menginginkan Yesus sebagai situs jodoh, malah terkadang masih saya lakukan sampai sekarang. Saya ingin memiliki relasi hanya dengan orang-orang yang match dengan saya. 

Yesus Kristus bukan situs jodoh, Ia Raja. Perintah-Nya yang terutama di Markus 12:30-31, "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini". Ia mengatakan hal yang sama di Yohanes 14:15 "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku." Sebelum naik ke surga, Ia juga berpesan di Matius 28:18-20, "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." 

Overthinking

Ternyata, semakin memiliki pengetahuan dan pengalaman tidak membuat kehidupan menjadi semakin mudah. Ya, ini ada hubungannya dengan overthinking. Dan gue tidak sendiri. All these speed  development, all the restrictions due to Covid-19 has changed how we think. Gak cuma membelah masyarakat ke dalam polarisasi pemikiran, tetapi juga membelah jiwa para individu. It happens to me. Gue gak pernah nyangka kalau gue akan mengalami overthinking yang membuat gue berpikir semua yang gue lakukan tidak bermakna. Gue merasa gagal. Setiap kali gue mau bangkit, gue jatuh lagi. I thought it was hormonal imbalance. Tetapi gak, bukan,  gue gak tau apa penyebabnya. So I shoot. I shoot everything. I pray and I shoot. I hope it works.









Tuesday, August 10, 2021

I wish

I often notice people misunderstand me

I wish they understand me better

So I speak up

And I brush my teeth before crawling to bed

And rethink what words I let out of my mouth when I spoke up

And I feel regretful

They still don't get the whole picture about me

I wish I didn't so vividly

I wish I could be like everybody else

I wish I chose the normal words

And highlight the best part of me

I will always be that girl

Always fail to cover up

I don't think it'll benefit me in this clean community


Saturday, July 3, 2021

Trauma

Saya mengalami trauma. Ya, saya orang Kristen yang rajin beribadah ini trauma. Kata ini tersirat ketika saya sulit memejamkan mata. Ingatan akan peristiwa itu diputar ulang setiap kali saya menutup mata, ekpresi dan kata- kata kasar itu. Saya mempertanyakan apakah benar tuduhan itu. Saya merasa malu, merasa dimanfaatkan, merasa harus menghilang dalam sepi. Airmata tidak mau berhenti. Hati berteriak meminta pembelaan Tuhan. Saya memikirkan ide yang mampir di kepala, none can deliver me ftom donestic abuse, except me. I must embrace this bitter reality and deal with it. Stand up and be a brave woman.

Sakit hati? Ya, sangat menyakitkan. Tangan saya gemetaran ketika peristiwa itu terjadi. Dia tidak merasa bersalah sama sekali. Dendam? Gak boleh. Dia saudara saya. Kristus mengajarkan untuk mengampuni dan mendoakan. Sulit? Ya dan tidak. Saat ini, saya masih mengalami dampak trauma itu. Saya mengetik ini di tempat tidur pukul 02.34. Sempat tertidur sebentar tetapi terjaga dan gagal memejamkan mata lagi. Saya merasa srndirian dan kesepian. Malu, protes, overthinking mengenai banyak hal. My mom must not know about this. She's just recovered from Covid-19. I must come up like normal. Tidak sulit memaafkan ketika berpikir dia harus bertobat agar beroleh pengampunan Allah. Saya juga orang berdosa. Dan tidak, ini tidak boleh terulang lagi. Saya memisahkan diri demi kewarasan. Dan, airmata ini masih betah mengalir, membuat agak sulit mengetik. I'm too old for all this drama. 

Roma 15:13 Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan.


Friday, July 2, 2021

Kisah Malam Ini

Kisah malam ini merupakan rentetan dari berita pagi di hari Sabtu 19 Juni 2021. Mama gue dinyatakan positif Covid-19. Kami berempat, kakak beradik, bergantian menunggui Mama di IGD Cikini antri mendapatkan kamar perawatan yang baru didapatkan keesokan harinya. Sepanjang hari itu, kami mengganti semua seprei, selimut, baju yang sempat dipakai Mama, masker tidak lepas karena kami 'mencurigai' satu sama lain di dalam rumah. Saya mulai merasa indera penciuman terganggu meskipun indera pengecap berjalan normal. Saat itu berbarengan dengan kondisi badan saya yang sedikit menurun karena haid. Saya juga memusingkan presentasi pada 26 Juni lalu, suatu kesempatan berbicara dalam di ruang internasional, AIFIS-MSU. Pada 21 Juni, kami sekeluarga di PCR dan selama belum ada hasil, kami tidak beraktifitas normal. Hasil PCR dari puskesmas menyatakan bahwa 4 dari kami positif, setelah menunggu selama 3 hari penuh. Kami memutuskan isoman ke tempat lain. Malam ini, di tempat lain itu, saya mengetikkan kisah ini dari tablet Samsung saya. Kenapa? Karena saya kesal. Bukan karena terpapar virus ini tapi karena harus menanggung semua kebutuhan kami berempat selama di sini selama 14 hari. Pengeluarannya tidak murah. Kesal, karena sepertinya tidak ada kejelasan mengenai akhir dari isoman ini. Kesal, karena suara sinetron racun yang tiap malam ditonton dengan setia oleh saudara saya. Kesal, dengan keluhan saudara saya yang lain tentang hidupnya. Kesal, karena tidak tahu harus menyatakan kekesalan kepada siapa. Kesal, karena saya peduli dan sekarang, saya merasa dimanfaatkan. Maaf, saya kesal.

Tapi, malam ini saya juga sadar. Semua hanya oleh anugerah Tuhan. Ssya bisa peduli dan menolong juga karena anugerah Tuhan. Saya diberiksn rejeki dan ketabahan menjalani hari juga anugerah Dia. Masa depan selalu tidak pasti dan 'menakutkan'. Saya percaya ada sepasang jejak kaki di sepanjang pasir kehidupan saya yang mengikuti sepadang kaki saya. Sepasang kaki itu milik Bapa saya, Dia peduli dan tidak lupa saya ini berasal dari debu. Maaf, saya tadi kesal.

Malam ini, saya harus berterima kasih karena bisa berbagi lagi di Catatan Kecil. Sudah terlalu lama saya membiarkan diri overthinking, membuang-buang waktu dengan menjalani hidup seperti robot. I will embrace every moments in life, good or bad, and know He is there for me.

Bapa kami yang di surga, dimuliakanlah nama-Mu. Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di surga. Berikanlah kami pada hari jni makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan. Tetapi bebaskanlah kami dari pada yang jahat. Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan, dan kuasa, dan kemuliaan, sampai selama-lamanya. Amin.

Tuesday, April 20, 2021

Orang Kaya dan Lazarus yang Miskin

Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita  

Lukas 16:25


Orang Kaya itu melihat Lazarus setiap hari di depan rumahnya. Dia tidak pernah kekurangan sesuatu apapun yang baik di dunia, sepertinya "everyday is holiday" itu benar-benar berlaku dalam hidup si Kaya. Penampilan Lazarus yang penuh borok dan didatangi anjing yang menjilati boroknya, serta selalu kelaparan hingga mengambil remah-remah makanan dari meja si Kaya tidak menggerakkan sedikitpun belas kasihan. Sungguh terlalu. 

Dan keduanya pun mati. 

Si Kaya masuk ke neraka dan Lazarus disambut oleh malaikat, dibawa ke surga, dan didudukkan di pangkuan Bapa Abraham. 

Di sini plot twist-nya berlangsung. Di dunia, Lazaruslah yang melihat ke meja Orang Kaya dan berharap belas kasihan namun tidak mendapatkan. Di akhirat, Orang Kaya melalukan hal yang sama dilakukan oleh Lazarus ketika di dunia, yaitu memandang ke atas dan memohon belas kasihan. 

Thursday, April 8, 2021

An Angel Without Wings

During the period of Work from Home, I had a lot of time to reflect. Apparently, having a family is not only a blessing, but also requires additional work to support each other, especially when there are family members who got economically collapsed due to Covid-19 pandemic. Having no money in pandemic era is like a disaster. All activities must be stopped for the sake of 'staying at home', for cutting off the spread of the Covid-19 virus. A part of me is grateful that my company still pays me without any cut off. But the rest of me is still wondering, worried to be precise, when will this end? I can't start my own business, like others. I am the type of employee who receives a monthly salary. 

My mind goes back to the past, sometime in 2000. A time when I didn't get permanent job, yet. I have graduated from a good university with an excellent academic record. At that time, I thought it would not be difficult for me to get a job. As it turned out, I had to wait for that opportunity for a year and a half. I didn’t want to ask my mom to finance me. I didn’t have a heart to do it. My mom has been widowed for more than three years. She was a good manager of our house, especially in managing money for our life. She didn’t earn much, but we didn’t lack of anything. Even though she worked independently, and no relatives came to help her, she had faith that God would provide all of our need. That’s why I had the urgency to finish school as soon as possible so I could help her financially. I was sad that it wasn’t like what I had planned. 

Menganggap Sepi

Semalam, saya marah sekali pada keponakan-keponakan saya, terutama keponakan pertama. Pasalnya, saya melihat dia sedang bermain gim daring ,...