Tuesday, November 18, 2014

Ada Pilihan Lain?

Semua orang punya masalah...

Ada yang punya masalah dan jadi membenci hidup
Ada yang punya masalah dan  mengumbarnya sesering mungkin
Ada yang punya masalah dan melarikan diri
Ada yang punya masalah dan berupaya untuk bertahan
Ada yang punya masalah dan mencari jalan keluar

Semua orang punya masalah...

Asal muasalnya bisa dari diri sendiri
Dari orang lain
Yang paling istimewa,
Masalah yang datang atas seijin Tuhan

Semua orang punya masalah...

Bisa masalah yang benar-benar masalah
Bisa masalah yang agak bermasalah
Bisa masalah kecil yang dianggap masalah besar

Semua orang punya masalah...

Jadi jangan pandang masalahmu lebih istimewa
Jadi jangan lantas putus asa dan mau mengakhiri hidup
Jadi jangan menyalahkan apapun, siapapun

Semua orang punya masalah...

Semua orang hidup dengan masalah
Ya, itu, orang hidup ada masalah
Cuma orang mati yang tidak punya masalah
Hidup adalah masalah, masalahnya kamu mau tidak hidup?
Masalah bersatu dengan hidup

Mau hidup, dapat masalah, mirip “Buy 1 get 1, FREE”

Wednesday, November 5, 2014

Ular di Dalam Rumah

Di sana, ada sebuah rumah yang dihuni oleh orang-orang yang selalu sibuk. Seperti pagi biasanya, seluruh anggota keluarga sedang bekerja. Ada yang menyapu rumah, ada yang menyiapkan makanan, ada yang mengatur letak barang-barang, berbeda-beda yang mereka kerjakan. Dapat terlihat jelas dari wajah-wajah mereka, kebahagiaan karena bekerja bersama demi keindahan rumah itu. Terdengar canda, tawa serta lagu-lagu yang keluar dari mulut mereka. 

Rumah itu tidak terlalu besar, tetapi sangat nyaman. Makanan selalu tersedia. Sirkulasi udara cukup karena matahari dan angin dibiarkan masuk melalui jendela-jendela yang dilapisi kawat untuk menghindari binatang-binatang melata ataupun burung-burung masuk ke dalam rumah. Ya, rumah itu berdiri di daerah yang dihuni banyak binatang liar. Hanya ada satu pintu di rumah itu dan selalu terkunci.

Orang-orang yang tinggal di dalamnya berasal dari negeri yang berbeda-beda. Alexander dan Amos, berasal dari negeri Logos, diberikan kepercayaan oleh Boaz, memastikan pintu selalu tertutup. Boaz sendiri berasal dari negeri Poimen, negeri para penjaga rumah. Orang-orang dari negeri Poimen pergi ke ujung-ujung bumi untuk menjagai rumah Sang Pemilik. Deborah, Eli, Caleb, berasal dari negeri Profetes, negeri para pendengar. Sang Pemilik akan berbicara kepada mereka semua tetapi orang-orang dari Profetes-lah yang paling peka. Itu hanya terjadi jika mereka menutup telinga mereka dari suara Musuh. Julia, Lea, Luke, mereka berasal dari negeri Labora. Mereka sangat kreatif. Hasil pekerjaan tangan merekalah yang membuat rumah itu hidup.

Thursday, October 23, 2014

Teman yang Lebih dari Sekadar Status

A friend in need is a friend indeed...

Biasanya orang mengutip kata-kata ini saat sedang 'berbunga-bunga' karena memiliki seorang teman yang pengertian, memberi bantuan saat butuh ataupun saat kesedihan melanda. Namun, saat saya mengutip kata-kata ini pada status BBM, saya justru sedang merasa sendirian, bukan kesepian, loh. Buru-buru saya tambahkan ... but sometimes you just need to go so that you know the REAL FRIEND. Berdasarkan pengalaman pribadi, teman seringkali tidak ada saat dibutuhkan. Justru, orang yang baru dikenal atau yang tidak kenal sama sekali yang memberikan bantuan itu, seperti pengalaman saya mendapatkan bantuan menggunakan 2 handphone orang asing untuk menelepon teman menjemput saya di bandara udara Orly, Perancis.

Saya lebih suka pernyataan yang ini...
Teman itu seperti bintang, kadang tidak selalu kelihatan (karena langit mendung, mungkin) tetapi mereka selalu ada (mungkin dalam doa atau ingatan). 

Tuesday, October 21, 2014

Seperti Apakah Seorang Prajurit Itu?

Saat saya menonton film G.I. Joe: The Rise of Cobra, pikiran saya melayang pada peperangan rohani yang diwajibkan bagi para pengikut Kristus. Di film itu, para prajurit yang tergabung dalam The Alpha team, mendapatkan pendidikan keprajuritan tingkat tinggi dari negara masing-masing, dikumpulkan dan bekerja bersama-sama di bawah kepemimpinan seorang komandan (Jendral Hawk) di sebuah tempat bernama The Pit.

Tidak perlu saya ceritakan keseluruhan jalan cerita film tersebut karena saya memang tidak bermaksud membuat resensi. Para prajurit ini bekerja secara rahasia, dipisahkan dari kehidupan normal. Mereka berlatih keras dan selalu siap sedia saat suatu misi harus dilakukan. Mereka juga bertempur secara kooperatif, biarpun masing-masing memiliki keterampilan khusus, seperti pemecah data, pengintai, dsb. Saat mereka tertangkap, Jenderal Hawk membela mereka dan mengeluarkan mereka dari dalam penjara. 

Selama film berjalan, saya mengamati sikap para prajurit ini. Inilah yang saya dapatkan :

Sunday, October 19, 2014

Menjadi Tua dan Jelek dengan Ucapan Syukur

Percakapan singkat dengan Mama sebelum saya berangkat ke gereja, kemarin pagi.
Mama : 
De, Mama jelek banget ya masa lehernya udah kelihatannya turun. Ini juga udah ada kerutan di bibir Mama. 
Saya :
Dimana, Ma? Gak keliatan kok. Biasa aja.
Mama : 
Masa gak keliatan? Jelas begini. Wajah Mama udah mulai banyak kerutan nih.
Saya : 
Yah namanya juga sudah tua. Semua orang juga akan begitu. Yang penting kan manusia di dalam sana, bukan yang di luar.
Mama : 
Tapi Bu Sophie lebih tua dari Mama tuh bisa mukanya masih mulus.
Saya : 
(tidak mau kalah) Bu Sophie punya anak gak? 
Mama : 
Gak, tapi bukan karena itu juga mukanya mulus. Dia perawatan, De. Mama kurang rajin sih rawat muka pake olive oil. Beli dimana sih?
Saya : 
Ada di mana-mana, Ma...(sedikit yakin bisa menenangkan Mama yang panik dengan penuaan)...Ma, yang penting sehat, cantik itu keluar dari dalam, dari ucapan syukur.

Wednesday, October 8, 2014

Hi and Bye, Birdie!

Sendirian di kantor, saya dengar bunyi ketukan berulang-ulang di ruangan yang tidak dinyalakan lampunya. Siapa yang ada di situ? Apa saya tadi tidak sengaja mengunci seseorang di dalam sana? Saya masuk ke ruangan itu. Tiba-tiba benda terbang ke arah saya dan membentur ke jendela di sebelah saya, lalu jatuh di atas mouse pad komputer di ruangan itu. 

Oh, burung yang malang, kamu pasti mau pulang ke keluargamu! Saya buka satu-satunya jendela yang ada di ruangan itu. Burung kecil terbang dan melesat menuju jendela itu, namun tidak tepat, membentur sisi jendela dan jatuh di atas mouse pad komputer. Saya angkat tubuh mungil itu. Sakit sekali rupanya! Kasihan kamu! Saya lihat paruhnya mengeluarkan lidah kecil dan kakinya sebelah kanan menekuk, mungkin dia kesakitan.

Monday, October 6, 2014

Delusion versus Reality

I am a writer…

Oh yes, I am a writer, but I haven’t released any books, yet.  Can I be called a writer? Well, you might think that you are a writer, and none would dare to tell you directly that you’re not. Sadly to say, you’re not, since you believe that you are, that’s a delusion.

We believe in many delusions. We believe too much on what the media says without trying to even re-think the truth behind the information. We believe too much on what our eyes see, our ears hear, our hearts feel. What our logic says, that’s the truth. What our society we grow up says something right, then it is right for us.

We think that we own this life. We own our children, our family, our job, our money, our friend. It’s a delusion. We think that what famous persons say is right since they are famous, anyway. It’s a delusion. What is the reality? What is the truth? 

Those questions were asked by a strong person in his time, Pilate. When he first met Jesus and talked with Him before the cruxifiction, he answered Jesus back by asking those questions. He didn’t know that he was standing before the Truth, the Reality.

Yes, Jesus Christ is the Truth, the Reality. 

Jesus said, "I am the Way, the Truth, and the Life..."



Tuesday, September 30, 2014

The Crucified Life

A.W. Tozer, nama ini pertama kali saya baca di artikel renungan harian yang sedang saya terjemahkan. Di renungan itu, saya mendapatkan kesan beliau adalah salah satu ahli teologia terkemuka di jamannya. Saya merasa harus tahu karena sebagai seorang pustakawan, saya perlu kenal (setidaknya) sepintas tentang penulis-penulis terkenal. Tanpa direncanakan, seorang teman yang memiliki toko buku meminta saya memberikan resensi sebuah buku yang menjadi salah satu calon buku untuk diterjemahkan. Dia bilang buku ini sedang naik daun di negara asalnya, Amerika Serikat, dan sekarang diminati oleh para pembaca buku-buku "berat". 

The Crucified Life (A.W. Tozer)The Crucified Life, judul yang kuat digabungkan dengan sampul buku bergambar paku-paku yang disusun membentuk salib. Saya teringat kisah Yesus Kristus yang disalibkan dengan paku-paku itu. Saya merasa ngeri untuk membacanya tetapi saya harus karena sudah berjanji dengan teman saya.

Monday, August 25, 2014

Shadow of His Hand

Saya suka sekali dengan kisah Anita Dittman, seorang Arya (German) - Yahudi, yang mengalami kesukaran hidup pada masa pemerintahan Hitler di Jerman. Ayahnya memilih meninggalkan isteri dan anak-anaknya karena merasa telah membuat keputusan bodoh, menikahi seorang Yahudi. Anita diperlakukan bukan seperti anak kandung sendiri, memilih untuk ikut dengan ibunya, sementara kakaknya, Hella, memilih ikut ayahnya. 

Anita mahir sekali menari balet dan ingin menjadi seorang penari profesional. Saat itu, Hitler menyebarkan kebencian terhadap ras Yahudi, menyebut mereka Judenfratz. Di segala tempat, Anita harus menerima perlakukan buruk orang-orang Jerman yang pro-Nazi tanpa perlawanan apapun. Bahkan ia harus membiasakan diri membaca tanda-tanda, berjalan dengan kepala tertunduk, tidak melakukan kontak mata, berjalan di tempat-tempat berbayang agar tidak dilihat orang lain.

Sunday, August 24, 2014

Tidak Ada Judul

Saya bingung mau kasih judul apa untuk posting-an kali ini. Kali ini tentang perasaan saya. Tentang sesuatu yang lebih daripada harta, lebih daripada permata. Lebih dari semua yang dianggap berharga di dalam dunia. Ini tentang Yesus Kristus.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa saya ini pemberani. Saya tidak sedang membentuk opini bahwa saya ini orang saleh. Tidak, ini tentang Yesus Kristus yang hidup di dalam hati dan pikiran saya. Bukan suatu fanatisme yang tidak berujung, tetapi pengharapan yang aneh. Seaneh kotbah pendeta saya pagi ini.

Friday, August 22, 2014

Masak Enak

Beberapa waktu belakangan ini, saya terpacu untuk membuat masakan untuk makan sehari-hari, dengan terms and conditions sebagai berikut: tidak terlambat bangun (harus bangun jam 4 subuh, bukan hari Jumat, dan mood dalam keadaan baik, alias tidak malas). Saya cukup suka dengan hasil masakan saya selama ini, bisa dibilang cukup berhasil. Analisa saya karena jenis masakannya sederhana, bahannya sedikit dan cara masaknya sederhana. 

Karena saya juga yang makan masakan itu, jenis masakan meningkat menjadi gampang-gampang susah. Saya mulai lepas dari buku resep dan mengandalkan lidah serta insting memasak. Beberapa kali saya sukses membuat jenis masakan ini, semua termakan, tidak ada yang terbuang. Hingga hari ini, saya gagal membuat masakan yang menurut saya seharusnya mudah, capcay.

Menganggap Sepi

Semalam, saya marah sekali pada keponakan-keponakan saya, terutama keponakan pertama. Pasalnya, saya melihat dia sedang bermain gim daring ,...