I wrote this thought when I was alone in my room, thinking about some people in internet saying that the christians can do sins without getting punishment because Jesus Christ already paid the punishment when He was crucified. And some 'christians' who think and teach this doctrine to the other 'christians' that no matter how bad they live their lives with no repentance of sins, God will love unconditionally. This is called Hyper Grace.
I don't understand the concept of hyper grace doctrine. As long as I am being a christian, even when I was unborn, never in my mind I imagine that God would allow me to live by my own. When I was unborn, I always had a thought that God must be holy and I must come before Him blameless, sinless, which I know at that time, it was impossible. That's why I always felt unworthy. I know God is kind and I'm sinful. I tried to make up my attitude, to pray and to go to church more so God would accept me. And I was afraid to die. I was afraid to see His face when I died.
Thursday, October 6, 2016
Monday, October 3, 2016
Berita Bohong
Ceritanya, adik saya memberikan telepon pintar ke Mama. Sudah lama Mama menginginkan benda itu tetapi selalu kami tolak memberikannya karena Mama butuh waktu lama banget hanya untuk mengirimkan pesan teks ataupun mengisi kontak baru di teleponnya terdahulu yang sederhana. Entah mengapa, adik saya akhirnya mau juga memberikan telepon pintar itu.
Suatu malam, saat saya dan Mama baru pulang tamasya, Mama langsung mengambil telepon pintarnya dan mulai menelusuri berita melalui youtube. Mama sangat mengikuti perkembangan berita Jessica - Mirna segera saja tertarik membuka tautan yang ada di youtube. Mama begitu perhatian dengan isi berita di sana, sampai-sampai waktu tidur pun, telepon pintar itu tidak berpindah dari tangannya.
Suatu malam, saat saya dan Mama baru pulang tamasya, Mama langsung mengambil telepon pintarnya dan mulai menelusuri berita melalui youtube. Mama sangat mengikuti perkembangan berita Jessica - Mirna segera saja tertarik membuka tautan yang ada di youtube. Mama begitu perhatian dengan isi berita di sana, sampai-sampai waktu tidur pun, telepon pintar itu tidak berpindah dari tangannya.
Monday, September 19, 2016
Atlet Pemanah
Semalam, tidak seperti biasanya, saya tidak memutar channel film atau berita. Sebaliknya, saya memutar channel olahraga olimpiade Rio de Janeiro 2016. Tidak tanggung-tanggung, saya menonton olahraga memanah. Tiap peserta memiliki kesempatan memanah dalam 5 set, masing-masing set, 3 kali. Seru juga, meskipun ini pertama kalinya saya menyaksikan olahraga ini.
Tibalah giliran peserta dari Indonesia, Ika Yuliana. Saat dia mengambil postur untuk membidik, tarikan senar panahnya itu ikut menarik sebagian wajah Ika. Bentuknya jadi lucu :p Sepertinya, dia tidak peduli dengan bentuk wajahnya. Saya melihat sorot mata dan bibir mengatup serius tanda dirinya hanya memikirkan satu hal, yaitu anak panah harus melesat ke lingkaran terdalam, yang diberi skor 10.
Tibalah giliran peserta dari Indonesia, Ika Yuliana. Saat dia mengambil postur untuk membidik, tarikan senar panahnya itu ikut menarik sebagian wajah Ika. Bentuknya jadi lucu :p Sepertinya, dia tidak peduli dengan bentuk wajahnya. Saya melihat sorot mata dan bibir mengatup serius tanda dirinya hanya memikirkan satu hal, yaitu anak panah harus melesat ke lingkaran terdalam, yang diberi skor 10.
Thursday, September 15, 2016
Tidak Mungkin Nyasar
Bersepeda
ke kantor memang menyenangkan. Menyenangkan dan menyehatkan. Menyehatkan dan
menyegarkan. Kenapa menyenangkan? Ya, karena saya bisa atur waktu tiba di
kantor, kira-kira 15 menit dengan kecepatan gowessedang.
Suatu
hari, saya dan satu teman sekantor janjian bertemu di daerah Kelapa Dua untuk
menjenguk mantan teman kantor. Kalau lewat jalur ‘resmi’ antara Lippo Utara –
Kelapa Dua, melewati daerah Islamik, saya kuatir ditabrak mobil atau motor. Bagi
goweser pemula, jalanan itu terbilang
besar sekali dan konturnya menanjak. Saya sudah bisa membayangkan harus
menuntun sepeda. Tidak kuat gowes. Kalau sepedanya dituntun, kok rasanya tidak
keren ya? Hehe.
Wednesday, July 20, 2016
Pengemudi dan Penebeng Bicara Tentang Keselamatan
Pada suatu pagi, ketika matahari bersinar terik
namun tidak menyengat, terjadi pembicaraan serius antara 2 orang tentang
keselamatan hidup di atas motor.
Pengemudi: Oooh, Mbak mau ke gereja ya? Mbak tau
ayat Yohanes 3:16?
Penebeng: Tau donk, Bang, itu ayat terkenal
sekali. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia
telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya
kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
Pengemudi: Berarti Yesus
Kristus datang untuk menyelamatkan dunia, ya?
Penebeng: Kok Bapak tau? Bapak
Kristen, ya?
Pengemudi: Bukan, saya hanya
orang yang sedang mencari Tuhan.
Penebeng: Sudah sampai dimana pencarian Bapak tentang Tuhan?
Friday, May 13, 2016
Tangisan Sunyi
Kupandangi foto itu
Sontak serbuan kenangan menyerang
Sontak jantung terasa dihujam belati
Pertanyaan tak terjawab menghantui lagi
Memang pertanyaan itu selalu ada di sana
Menunggu untuk dijawab
Apakah aku harus berpuas dengan itu?
Rasanya tidak sabar menunggunya
Aku teringat Ayub
Ia puas dengan pertanyaan yang tidak terjawab
Yang disampaikannya kepada Pencipta
Tuhan Allah Yang Mahatinggi
Aku teringat dengan kisah hidup para martir
Mereka bukan manusia super
Alami kepedihan karena kehilangan
Pun punya pertanyaan tak terjawab
Aku teringat perkataan Yesus Kristus
"Aku datang membawa pedang"
Pemisahan itu terus terjadi, proses pemurnian
Sampai tiba Hari Penyatuan itu
Tidak tahu sampai kapan jawaban itu datang
Sampai tiba waktunya, aku akan memohon
Aku harus berpuas dengan pemisahan ini
Entah sampai kapan
Sontak serbuan kenangan menyerang
Sontak jantung terasa dihujam belati
Pertanyaan tak terjawab menghantui lagi
Memang pertanyaan itu selalu ada di sana
Menunggu untuk dijawab
Apakah aku harus berpuas dengan itu?
Rasanya tidak sabar menunggunya
Aku teringat Ayub
Ia puas dengan pertanyaan yang tidak terjawab
Yang disampaikannya kepada Pencipta
Tuhan Allah Yang Mahatinggi
Aku teringat dengan kisah hidup para martir
Mereka bukan manusia super
Alami kepedihan karena kehilangan
Pun punya pertanyaan tak terjawab
Aku teringat perkataan Yesus Kristus
"Aku datang membawa pedang"
Pemisahan itu terus terjadi, proses pemurnian
Sampai tiba Hari Penyatuan itu
Tidak tahu sampai kapan jawaban itu datang
Sampai tiba waktunya, aku akan memohon
Aku harus berpuas dengan pemisahan ini
Entah sampai kapan
Tuesday, May 3, 2016
Dia Pergi
Saya di sini, dia pergi
Saya jadi penguntit rahasia
Penasaran ingin tahu semua tentang dia
Sayang, tidak semua tertera di layar ini
Saya tidak biasa menjadi penguntit, apalagi rahasia
Buat dia, saya bisa jadi pengecualian
Apa yang saya cari?
Apa yang saya harapkan?
Saya mencari yang tidak ada
Saya mengharapkan yang tidak mungkin
Saya tidak sedih
Juga tidak senang
Lalu, setelah sekian lama menjadi penguntit rahasia
Dia datang,
Sekelebat saja melemparkan senyum
Hampir saya kira ada semacam penglihatan merasuki
Sempat mengejar kecil, mencari
Nihil, saya pun tersenyum pada diri
Biarlah lepas dia pergi
Ada perasaan yang sebaiknya tetap tersimpan rapat saja
Saturday, March 19, 2016
Lahir Baru
Ini merupakan jawaban yang diberikan Tuhan Yesus kepada Nikodemus tatkala ia menyatakan bahwa ia percaya Yesus itu adalah Guru yang diutus Allah. "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." Nikodemus yang tidak mengerti tentang hal ini terus menanyakan artinya kepada Yesus.
Istilah lahir baru ini begitu seringnya didengar oleh orang-orang di lingkungan gereja. Jika rajin beribadah, maka seseorang sudah dikatakan lahir baru. Jika sudah melakukan kebaikan, maka seseorang sudah dikatakan lahir baru. Di sini, Nikodemus memiliki keduanya, baik kerajinan beribadah terbukti dengan karirnya seorang pemimpin agama Yahudi yang paling ketat, Farisi, maupun kebaikan karena ia berani sendirian datang kepada Yesus di malam hari untuk mencari kebenaran. Namun, itukah lahir baru?
Mari kita mulai dari ilustrasi tentang seorang perempuan yang sudah siap melahirkan. Ia mengandung benih anak itu selama 9 bulan. Semakin tua kandungannya, semakin hebat dirasa pergumulan sakitnya. Menjelang kelahiran anaknya, kesakitan itu semakin berlipat kali besarnya. Saat anak itu dilahirkan, ada kegembiraan besar dirasakan oleh ibu baru ini. Si anak yang selama ini ada di dalam kegelapan, di dalam rahim ibunya, untuk pertama kalinya melihat terang.
Obrolan Malam
Biasanya, kalau hari gerah karena mau hujan tetapi tidak jadi, saya buka kedua daun jendela dan pintu kamar saya. Saat itu, saya sedang menonton tayangan politik di TV yang cukup menarik. Tiba-tiba teman kos masuk dan menonton tayangan itu bersama saya. Kami pun berbincang-bincang tentang tokoh yang sedang ditampilkan itu.
Setelah tayangan itu selesai, teman saya masih saja berlama-lama di kamar saya. Percakapan bergulir ke kisah cinta segitiga teman saya itu, antara dia, pacarnya dan rekan sekerjanya. Dia punya rekan sekerja yang perhatian banget, sampai-sampai seisi kantor, bahkan bosnya menganggap mereka berpacaran. Berkali-kali teman kos saya ini meluruskan fakta tersebut. Jadi, dia membagikan kisahnya ke saya untuk mengetahui apa benar perkataan orang-orang di kantornya, bahwa sebenarnya rekan sekerjanya ini memang punya hati dengan dia.
Jawaban saya, mendengar seluruh ceritanya, ya, memang rekan sekerjanya ini menaruh hati padanya. Dia bilang apa yang harus dilakukan karena tidak ingin menyakiti rekan sekerjanya ini. Di tengah-tengah kegalauannya, masih sempat ia memuji perawakan rekan sekerjanya ini yang ganteng juga perhatian sekali. Hmm, saya jadi curiga dengan dia.
Tuesday, March 15, 2016
Reuni
Ting...ting...
Ada undangan masuk grup SD…
Ah, kenapa pula aku harus ikutan
grup reuni? Kenapa tiba-tiba semua kasta pendidikan yang aku pernah lewati
mengundangku masuk grup WA? Apakah sedang musim reuni?
Di grup itu, mereka terlihat
sangat akrab. Di benakku, aku tidak ingat bahwa mereka sebegitu akrabnya.
Apakah ini efek media sosial? Maksudku, mereka akan bertanya-tanya tentang
dirimu di situ. Sudah menikah atau belum, bekerja di mana, dll.
Aku berusaha mengikuti percakapan
mereka. Tetapi, aku memang tidak bisa menutup-nutupi ketegasanku, masih seperti
dulu. Kutanyakan, apa maksudnya membuat grup pertemuan itu? Apakah akan ada
reuni? Apakah akan ada arisan? Arisan, tentu saja aku hanya becanda, hanya
untuk mengurangi sifat tegas dari pertanyaanku.
Thursday, March 10, 2016
I'm Sorry!
Kisah di kos, lagi.
Ada 2 kamar kosong yang terisi. Saya belum kenal mereka. Saya tidak pernah bertemu mereka. Saya tidak suka mereka, bahkan pada saat saya belum berkenalan dan bertemu mereka. Alasannya? Bagi saya, saat itu, alasannya sangat wajar, normal, masuk akal dan manusiawi. Teman sekos yang lumayan dekat dengan saya membenarkan hal ini.
Suatu hari, saya balik kos dan melihat banyak sekali semut berkerumun di depan pintu kamar. Saya mencari-cari penyebabnya. Pintu kamar saya buka. Rupanya, kerumunan semut berakhir tepat depan pintu saya. Kesimpulannya, sumber masalah ada di luar. Saya tidak langsung melihat tempat sampah karena di situ saya hanya membuang sampah kering. Saya keliru. Justru, dari tempat sampah itulah sumbernya. Saya lihat ada bungkus nasi yang dipastikan bukan sampah saya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Menganggap Sepi
Semalam, saya marah sekali pada keponakan-keponakan saya, terutama keponakan pertama. Pasalnya, saya melihat dia sedang bermain gim daring ,...
-
Pernikahan itu seperti perjalanan melalui laut menggunakan perahu, bisa terbuat dari apa saja. Tentunya, bahan pembuat perahu haruslah yang ...
-
Beberapa hari ini saya merenungkan tentang bekerja. Gak, saya tidak anti bekerja. Saya senang bekerja, apalagi pekerjaan fisik. Bekerja memb...